Tidak butuh Modal Besar

05 / 08 / 2015 - in CEO Interview
c_2

PT Karya Anugerah Sentosa

Jalur pantura menjadi tumpuan pengusaha logistik di Tanah Air. Ketika Jembatan Comal ambles, masalah pun merundung mereka. Salah satu perusahaan angkutan yang sangat menggantungkan jalur pantai utara di dalamnya ialah PT Karya Anugerah Sentosa (KAS). “Amblesnya Jembatan Comal memaksa saya harus mengeluarkan ongkos tambahan senilai Rp 1 juta per hari. Dapat dibayangkan jika seribu truk terpaksa melintasi jalur selatan maka kerugian bisa mencapai Rp 1 miliar per hari,” jelas Susanto, Direktur Utama PT KAS.

Keluhan PT KAS memang beralasan mengingat perusahaan yang memulai usaha dengan memuat genteng ini menggunakan rute Surabaya-Jakarta dengan melintasi jalur pantura. Dalam seminggu PT KAS melakukan distribusi muatan sekitar tujuh sampai delapan kali dengan rute yang sama. “Pemerintah tidak adil jika hanya menyalahkan pengusaha angkutan barang sebagai penyebab amblesnya Jembatan Comal. Karena justru pemerintah yang lemah dalam pemeliharaan,” kata Susanto.

Bagi PT KAS, peristiwa amblesnya Jembatan Comal semestinya menjadi evaluasi agar pembangunan jembatan mendatang berikutnya harus benar-benar diawasi mulai perencanaan hingga pelaksanaannya. Agar kualitas dan masa pakai jembatan jauh lebih lama, tanpa perlu melakukan perawatan yang terlalu rutin. Selain itu, kondisi tanah di sana merupakan tanah bergerak dan kendaraan yang melintas dominan kendaraan berat semestinya memiliki standar pembangunan yang berbeda dengan tanah biasa.

Berdiri 22 tahun lalu atau sekitar tahun 1992, PT KAS menjadikan jalur pantura sebagai jalur utama yang memiliki peran sangat vital. Selama kurun waktu itu pula PT KAS mengetahui dan merasakan kondisi jalur pantura tiap tahunnya. “Kendalanya dari dulu klasik. Jalan rusak, jembatan timbang, dan jalan macet. Masalahnya sekarang tambah parah saja,” keluh Susanto.

Terkait macet, Susanto mengungkapkan, hambatan tersebut memengaruhi waktu tempuh yang makin lama sehingga biaya operasional bahan bakar dan sopir bertambah. Ia mencontohkan, saat ini butuh tiga hari perjalanan untuk menempuh ke Jakarta, padahal 10 tahun yang lalu hanya membutuhkan dua hari.

Mengatasi Daya Tawar Sopir

Membengkaknya biaya operasional angkutan akibat waktu tempuh yang tak mampu diprediksi dan makin lama, sementara ongkos jalan tetap sama membuat banyak sopir enggan menggunakan jasa kernet. Apalagi posisi kernet hingga kini masih di bawah sopir, sehingga akan membuat makin banyak sopir mengendarai truk tanpa kernet. Padahal keberadaan kernet termasuk dibutuhkan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan keamanan.

Pentingnya keberadaan kernet pun turut disadari PT KAS saat sopirnya nekat jalan tanpa menggunakan kernet. Kejadiannya, sang sopir mengemudi tanpa kernet truknya terjatuh akibat parkir di pinggir jalan berdekatan dengan sawah. Kecelakaan tersebut bisa dihindari jika si sopir menggunakan kernet. “Kalau kernet ditiadakan, saya jelas tidak setuju. Yang benar kernet harus dibina agar bisa mengendarai truk, kan bisa sesekali bergantian dengan sopir,” papar Susanto.

Pengalaman itu membuat PT KAS kini selalu menekankan agar sopirnya harus menggunakan kernet. Di PT KAS sejauh ini posisi kernet di bawah sopir, dikarenakan PT KAS masih menggunakan sistem kerja borongan. Perhitungannya, ongkos muatan per kilonya dihitung kemudian bagi hasil dengan sopir. Bagi hasil sudah termasuk dengan pembagian tanggung jawab. Perusahaan bertanggung jawab pada suku cadang dan ban, sementara sopir bertanggung jawab pada bahan bakar dan keselamatan barang. Sedangkan untuk urusan kecelakaan bersifat situasional.

Dalam hal produktivitas sopir, PT KAS memiliki cara jitu agar terjalin hubungan yang saling menguntungkan antara sopir dengan perusahaan. “Melalui pendekatan secara proposional. Kami harus mengenal betul karakter masing-masing sopir, jika perlu kita harus tahu pula keluarganya dan di mana ia tinggal,” kata Susanto. Dengan begitu, kekhawatiran tentang hal yang tidak diinginkan bisa dihindari. Di satu sisi, timbul hubungan kekeluargaan yang pada akhirnya satu sama lain saling percaya.

Perusahaan yang dominan memuat keramik ini tidak begitu familiar dengan penerapan sanksi jika ada salah satu sopirnya melakukan pelanggaran. PT KAS lebih memilih melakukan pendekatan personal dengan memberi pengertian ke mereka agar bekerja dengan jujur dan terbuka. Sebab hal itu dinilainya lebih efektif karena sifatnya mencegah bukan baru bereaksi setelah terjadi masalah.

Pendekatan dan perlakuan yang sama juga diterapkan PT KAS kepada kernetnya. Perusahaan yang bergarasi di kawasan Buduran, Sidoarjo ini tak segan memberi kesempatan bagi kernet untuk menjadi sopir yang tentunya bersyarat. “Saya lebih menilai pribadinya bukan sekadar kemampuan berkendara. Ditambah manajemen waktu, pengendalian emosi, tanggung jawab, dan etika yang baik,” ulas pria 59 tahun itu.

Langkah itu menjadi strategi bagi PT KAS untuk mengatasi daya tawar sopir yang makin tinggi sekaligus melakukan regenerasi sopir-sopir baru. “Sekarang banyak truk pengusaha angkutan hanya bisa dipakirkan tanpa ada sopirnya. Sebab makin meningkatnya perusahaan angkutan barang baru membuat sopir makin jual mahal. Selain itu, banyak sopir yang berhenti karena mereka tidak tahan dengan kehidupan di jalan,” tambahnya.

Bermodal Satu Truk Engkel

Perjalanan bisnis PT KAS yang mampu bertahan hingga tak lepas dari keberadaan sang pemilik perusahaan, yakni Susanto. Ia bercerita, bisnis yang digelutinya hampir seperempat abad lalu itu bermula dari tawaran kawannya yang bekerja di pabrik genteng agar bisa membantu distribusi di sejumlah kota di Pulau Jawa. Tawaran tersebut kemudian disanggupi olehnya dengan membeli satu truk berjenis engkel secara kredit.

Meski hanya mengunakan truk yang mampu muat 10 ton-15 ton saja, seiring waktu armada PT KAS bertambah satu per satu tiap tahunnya. Hingga pada tahun 1994 PT KAS mengganti semua armadanya menjadi truk gandeng. Kini perusahaan yang berkantor di kawasan Manyar Tirto Asri, Surabaya ini telah memiliki 13 unit armada yang semua berjenis truk gandeng.

Saat memulai usahanya Susanto sempat mengalami kendala terutama ketika truknya mengalami kerusakan. “Kalau ada kerusakan truk saya mengalami kesulitan. Karena saat itu saya tidak memiliki kemampuan teknis dan relasi yang mampu memperbaiki. Akhirnya saya belajar dari nol semua alias autodidak,” ungkap Susanto. Lain halnya kerusakan truk, masalah lain yang cukup sering membuat anggaran PT KAS lumayan tergerus ialah pengeluaran untuk ban. “Pengusaha bisa bangkrut kalau tidak pintar mengontrol pengeluaran ban. Kami tak bisa apa-apa, kami cuma pasrah. Apalagi kondisi jalan yang jelek makin membuat ban menjadi cepat aus,” tambahnya.

Khusus muatan, sejak awal mula berdiri PT KAS lebih memilih memuat genteng, keramik dan sejenisnya. PT KAS tidak mencari muatan yang berisiko, seperti susu kemasan, bahan kain, besi, atau muatan yang bernilai tinggi. Pertimbangan PT KAS lebih karena faktor keamanan. Contoh susu kemasan, jika truk yang bermuatan susu kemasan hilang atau dirampok dalam kurun waktu dua jam saja muatan akan cepat berpindah tangan. Dengan demikian pihak kepolisian akan susah melacaknya. “Dalam berbisnis saya tidak serakah. Saya cari rezeki, bukan cari kaya. Kalau hanya semata-mata yang dicari kekayaan yang haram bisa jadi halal,” kata pria yang juga berprofesi sebagai dosen tersebut.

Meski tergolong pemilih untuk urusan muatan, PT KAS masih memiliki daya saing terhadap kompetitornya. Salah satu strategi yang dilakukan ialah berperilaku adaptif atau menyesuaikan permintaan pengguna jasa. “Kami sangat kooperatif dengan permintaan pelanggan. Salah satunya, aturan sopir yang diharuskan menggunakan sepatu saat memasuki area pabrik, kami selalu patuhi aturan tersebut. Prinsipnya kami harus mampu menyesuaikan permintaan konsumen agar mereka puas dengan layanan kita,” tuturnya.

Susanto menambahkan, kata kunci berbisnis itu ada tiga, yaitu produk, harga, dan layanan. Harga semua relatif sama, jadi khusus di bidang jasa, hal utama adalah kepercayaan dan pelayanan. Bentuk layanan yang dimaksud, PT KAS mampu menyesuaikan permintaan pengguna jasa. Oleh sebab itu, Susanto kemudian memberikan saran bagi para calon pebisnis pemula khususnya yang akan menggeluti bisnis angkutan barang. “Pelaku usaha angkutan barang pemula harus mau terjun sendiri. Tidak semata mengandalkan modal besar lantas tidak belajar usaha yang akan digeluti secara rinci. Karena sudah banyak contoh yang gagal akibat mereka tidak mengerti betul seluk-beluk dunia angkutan,” pungkasnya.

Teks: Abdul Wachid

Foto : Anang F



Sponsors

GIIAS Medan Auto Show