Berani lebih Mahal

24 / 07 / 2015 - in CEO Interview
c_5

PT Indo Dharma Transport

Prinsipnya semua kebutuhan pelanggan harus terpenuhi, tepat waktu dan memuaskan. Kami mending tak kerja, daripada pelanggan kecewa. Maka dari itu, kami selalu memberi informasi lengkap dan seakurat-akuratnya

Kapasitas tampung pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya untuk sandar kapal sudah overload. Kongesti atau antrian truk lima hingga tujuh hari di tiap dermaga, akibatnya biaya operasional per kapal membengkak sekitar Rp 60 juta per hari. Berdasarkan data Pelindo III pada tahun 2013 tercatat kapal yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak mencapai 10.087 unit. Kunjungan kapal masih didominasi oleh kapal petikemas yang tercatat sebanyak 3.521 unit dengan bobot 27,9 juta GT. Disusul kemudian kapal general cargo 2.162 unit dengan bobot 8,3 juta GT.

Dampak overload Tanjung Perak juga dirasakan PT Indo Dharma Trasnport (IDT). Perusahaan keagenan kapal dan pengiriman via laut ini mengharuskannya memberi penjelasan sekaligus meyakinkan pengguna jasa tentang kondisi pelabuhan. “PT IDT selalu menginformasikan secara terbuka tentang kondisi pelabuhan atau daerah tempat mereka akan bersandar. Dengan demikian, konsumen tak akan keberatan bila uang jasa naik atau ada biaya operasional tambahan,” jelas Sujarwa, Supervisor PT Indo Dharma Transport.

PT IDT menjadikan hal itu sebagai strategi agar pemilik kapal memahami betul kondisi pelabuhan. Langkah itu dilakukan tak lain karena kondisi pelabuhan di Indonesia saat ini kurang memadai dengan pertumbuhan kunjungan kapal yang tiap tahunnya meningkat. “Antrian kapal di pelabuhan tiap harinya selalu panjang, sekali pun nanti Teluk Lamong beroperasi, saya kira kondisinya akan tetap sama. Soalnya kapal di dalam negeri atau di luar negeri jumlahnya selalu bertambah,” tuturnya.

Peningkatan arus kapal yang bersandar dan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Perak sendiri juga bisa dilihat dari pengguna jasa PT IDT. Sejak berdiri tahun 2007 hingga sekarang pengguna jasa PT IDT selalu meningkat rata-rata 10 persen per tahun. Pada tahun pertama, PT IDT melayani 66 kapal; 2008, 46 kapal; 2009, 91 kapal; 2010, 88 kapal; 2011, 101 kapal; 2012, 185 kapal; 2013, 164 kapal. Sementara tahun ini hingga Agustus 2014, perusahaan yang berkantor pusat di Surabaya ini melayani 114 kapal.

Layanan yang dimaksud ialah mewakili prinsipal (pemilik kapal) dalam memenuhi kebutuhan dan kewajibannya bagi kapal-kapal yang singgah di Indonesia. Layanan itu meliputi, menyiapkan fasilitas, pelayanan terhadap anak buah kapal (ABK) dan kapal serta menjamin kelancaran operasional kapal di pelabuhan dan membuat laporan realisasi kunjungan kapal-kapal di pelabuhan.

“Kami sebagai perwakilan kapal dari luar negeri. Ketika kapal asing akan besandar di Indonesia, mereka lantas menggunakan jasa kami untuk memenuhi segala kebutuhan kapal dan ABK,” papar pria yang masih lajang tersebut. Prinsipal yang menggunakan jasa PT IDT dominan berasal dari luar negeri dengan sistem kerja kontrak sekali kunjungan, yang kemudian bisa diperbarui pada kunjungan berikutnya.

PT IDT memiliki jaringan bisnis yang kuat. Hal itu terlihat dari permintaan jasa yang tiap waktu selalu meningkat. Untuk memperkuat jaringan bisnisnya, PT IDT didukung sub-agen di sebagian besar pelabuhan Indonesia, yang dibagi menjadi lima wilayah, yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi.

Jaga Kepercayaan Pelanggan

Pelaksanaan keagenan kapal dimulai dengan penunjukan kepada PT IDT oleh pemilik atau operator kapal asing. Sebelum kapal tiba, prinsipal memberitahukan kedatangan kapalnya dan jumlah muatan yang perlu ditangani. Unit keagenan di kantor pusat sebagai general agent akan menunjuk cabang-cabang sebagai sub-agen dan muatan dari kapal prinsipal. Secara rinci jasa yang diberikan agen adalah pelayanan operasional kapal-kapal prinsipal, memonitor perkembangan muatan, pelayanan terhadap kapal dan muatannya serta menyelesaikan masalah klaim.

Tugas terakhir PT IDT kemudian menyusun dan membuat administrasi dan laporan pertanggungjawaban kegiatan agen kepada prinsipal. Isi laporan kegiatan berupa realiasi biaya-biaya disbursement, melengkapi semua bukti-bukti dan mengirimkan atau melaporkan kepada prinsipalnya. Ditambah laporan muatan yang dimuat, dibongkar, posisi bunker termasuk suplai bunker,  biaya-biaya operasional dan lain-lain.

Berbagai aktivitas layanan tersebut dilakukan PT IDT menuntutnya supaya konsisten menjaga mutu layanannya. “Kami menyadari PT IDT bergerak di bidang jasa. Karena itu, menjaga kepercayaan pelanggan dengan memberi layanan terbaik sangatlah penting agar mereka berminat menggunakan jasa kami kembali,” kata Sujarwa. Ia mengatakan, PT IDT tak perlu kerja keras mengeluarkan anggaran besar untuk pemasaran karena jika layanan PT IDT memang memuaskan secara otomatis pelanggan akan memasarkan perusahaan ke pihak lain. “Pemasaran dari mulut ke mulut jauh lebih efektif,” tambahnya.

Bagi PT IDT, prinsipnya semua kebutuhan pelanggan harus terpenuhi, tepat waktu dan memuaskan. PT IDT pun sadar, prospek bisnis keagenan kapal meningkat dan keberadaan perusahaan makin diperhitungkan. Dengan begitu, mempertahankan kualitas layanan adalah kunci utama agar bisa tetap bersaing. Upaya lain yang dilakukan PT IDT ialah dengan menjalin sebanyak mungkin hubungan profesional dengan banyak pihak terkait bisnis maritim. Komitmen itu diwujudkan dengan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak pemerintah, pelaku usaha, pelanggan, otoritas pelabuhan, dan asosiasi pengusaha.

Di sisi lain, selain keagenan kapal, PT IDT juga memiliki unit bisnis lain, yakni agen pengiriman dengan berbagai komoditas ekspor terutama batubara untuk pasar India serta pasar lainnya di Asia dan Eropa. Dilengkapi akses bongkar muat batubara dan komoditas mineral lainnya (bauksit/nikel) di Kalimantan dan Sulawesi Tenggara.

PT IDT memiliki peralatan berat sendiri, lima landing craft transportasi (LCT) untuk melayani kebutuhan klien secara efisien dan tepat waktu. Ditunjang seberapa peralatan pemangkasan seperti, dozer, wheel loader, dan excavator. Sementara pengiriman dalam negeri, PT IDT memfokuskan diri menjadi agen pengiriman pupuk yang didistribusikan di kawasan Kalimantan dan Sulawesi. Distribusi dilakukan dengan menggunakan kapal barang yang dimiliki perusahaan sebanyak dua unit.

Strategi Mengatasi Persaingan

Persaingan bisnis di bidang keagenan kapal cukup ketat. Selain bersaing dalam layanan, PT IDT paling sering bersaing dari segi harga atau uang jasa. Dalam persaingan uang jasa rata-rata PT IDT selalu kalah dengan perusahaan lain. Kalah bersaingnya PT IDT dengan keagenan kapal lain bukan karena uang jasa mereka yang mahal, tapi lebih karena uang jasa menyesuaikan dengan standar mutu layanan. “Pelanggan boleh pindah ke perusahaan lain karena uang jasa kami terlalu mahal. Tapi, jangan karena faktor pelayanan membuat pelanggan berpaling sebab kami yakin layanan PT IDT jauh lebih baik,” ujar Sujarwa.

Sujarwa menilai, perusahaan keagenan kapal lain cenderung pragmatis. Mereka hanya berpikir bagaimana mendapat pelanggan sebanyak mungkin, tanpa menghiraukan kualitas pelayanan. Mereka tanpa ragu mengurangi harga jasanya menjadi murah agar konsumen menggunakan jasanya. Padahal, uang jasa yang murah cenderung memiliki layanan yang rendah.

Contoh kelemahan keagenan kapal lain, terkadang mereka memperlakukan pelanggan secara tidak transparan tentang kondisi pelabuhan yang akan disinggahi. “Kami mending tak kerja, daripada pelanggan kecewa. Maka dari itu, kami selalu memberi informasi lengkap dan seakurat-akuratnya,” ucap Sujarwa.

Berbagai upaya yang dilakukan PT IDT terhadap kualitas layanannya membuahkan hasil. PT IDT memiliki banyak pelanggan setia yang salah satunya bahkan bekerja sama sejak PT IDT berdiri, perusahaan tersebut berasal dari Korea Selatan. Saking eratnya hubungan kerja sama antara keduanya, pernah sekali beberapa karyawan PT IDT diundang ke Korea Selatan untuk menghadiri resepsi pernikahan salah satu karyawan perusahaan tersebut.

Kini, meski telah memperoleh apresiasi dari banyak pelanggan dan rekanan, PT IDT tak lantas puas. Perusahaan yang juga berkantor di Jakarta ini menyadari, dalam bisnis jasa selalu ada peluang melakukan kesalahan. Mengingat bisnis jasa 99 persen dikerjakan oleh manusia dalam bentuk layanan. “Kami melakukan evaluasi dan selalu berusaha meminimalkan kekurangan tersebut,” kata Sujarwa.

Teks: Abdul Wachid

Foto: Giovanni Versandi

Sujarwa, Supervisor di Indo Dharma Transport

Sujarwa, Supervisor di Indo Dharma Transport



Sponsors

GIIAS Medan Auto Show