Sukses Itu Berguna bagi Orang Lain

22 / 07 / 2015 - in CEO Interview
c_6

PT Galena Perkasa

Kesuksesan adalah memberi manfaat kepada orang lain. Sebagai implementasi asas manfaat itu, PT Galena Perkasa memperhatikan kesejahteraan karyawan dan sopir di perusahaannya. Tak cukup sampai di sana, warga di luar perusahaan pun menjadi perhatian. Berbagai cara dilakukan perusahaan untuk membantu orang lain seperti membentuk tim rescue hingga membuat sekolah bagi warga tak mampu.

Kekayaan kerap menjadi simbol kesuksesan; makin kaya seseorang, makin sukses pula hidupnya. Anggapan seperti ini ternyata tidak berlaku bagi Ardyan Putut Cahyo Adhijoyo, Direktur PT Galena Perkasa. Menurutnya, kekayaan hanya alat untuk mencapai kesuksesan.

“Kita tidak bisa disebut sukses jika belum memberi manfaat bagi orang lain,” demikian kalimat bijak yang diucapkan Ardyan dalam menyikapi sebuah kesuksesan. Prinsip ini tidak hanya menjadi pedoman pribadi namun juga diaplikasikan dalam kebijakan perusahaan yang berkantor di Pondok Mutiara Blok BGA 01-02 Sidoarjo Jawa Timur ini.

Sejak berdiri 11 tahun yang lalu, PT Galena Perkasa, perusahaan yang awalnya hanya memiliki tiga armada ini tidak hanya fokus untuk memupuk kekayaan sebanyak-banyaknya tapi juga berupaya agar bisa berbagi terhadap sesama.

Kebijakan pertama yang diambil Ardyan adalah berupaya memberikan kesejahteraan kepada seluruh karyawan dan sopir yang berjumlah sekitar 350 orang. Kesejahteraan diwujudkan dalam beberapa hal, di antaranya dalam bentuk pembagian hasil dari sebagian keuntungan perusahaan, di luar honor yang diterima sebagai karyawan.

Pria yang memiliki hoby off road ini juga memberikan pinjaman tanpa bunga kepada istri sopir. Hal ini dimaksudkan agar sopir bisa bekerja dengan tenang dan istrinya tidak sampai kehabisan uang saat suaminya bekerja dengan rute cukup jauh. Pinjaman tersebut diberikan dengan cara dicicil selama batas waktu sesuai kemampuan keluarga sopir, mulai dari dua hingga lima tahun. “Biasanya digunakan untuk membuka toko kelontong atau beternak ikan. Terserah mau dimanfaatkan buat kerja apa. Yang penting halal,” tuturnya.

Perusahaan jasa transportasi darat yang sebagian besar armadanya berupa truk wing box ini tidak hanya memberi kesejahteraan kepada ratusan karyawan tetapi juga kepada masyarakat umum. Salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama diwujudkan dengan membuat tim rescue yang berkekuatan enam unit mobil. Tim ini tiap saat siap diterjunkan ke berbagai daerah bencana. Salah satu jejak rekam tim rescue Galena Perkasa adalah evakuasi korban “wedus gembel” Gunung Merapi. Saat gunung Kelud meletus Februari lalu, tim ini juga menfasilitasi pengangkutan bantuan untuk korban di Kediri. “Saya memang memiliki hobi off road, jadi memiliki sedikit pengalaman tentang medan terjal. Sayang kalau kemampuan ini hanya dimanfaatkan untuk hobi tapi tidak bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Sarjana Ekonomi Manajemen UPN Veteran Yogyakarta tahun 1996 ini juga membangun saluran pipa air bersih untuk penduduk di daerah Senduro, Kabupaten Lumajang bersama Ustaz sekaligus mantan rocker, Hari Mukti. Pembangunan pipa air tersebut diharapkan bisa membantu masyarakat sekitar yang selama ini kesulitan air bersih.

Sekolah Pelangi

Kegiatan sosial yang memberikan kesan mendalam bagi suami Santi Udayani ini adalah membangun sekolah. Kisah ini bermula saat Ardyan bersama beberapa teman semasa SMA melihat nasib anak-anak di daerah Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Di lingkungan yang sebagian masyarakatnya menggantungkan hidup dari memilah sampah tersebut, puluhan anak terlihat kumal dan tidak bersekolah. Pintu hati Ardyan dan teman-temannya terketuk. Setelah berunding, mereka memutuskan membangun sekolah gratis bagi anak-anak tersebut.

Karena belum memiliki lahan, maka mereka terpaksa membangun sekolah di sekitar area pembuangan sampah. Awalnya sekolah tersebut dibangun seadanya dari bilik bambu di area pembuangan sampah. Bambu tersebut dicat warna-warni agar anak-anak kurang mampu tersebut mau sekolah. “Dulu kami menyebutnya Sekolah Pelangi,” kenangnya.

Kendati dilandasi niat baik, namun keberadaan sekolah tersebut tidak serta-merta mendapat respons positif. Beberapa preman sempat mengusik dan berharap mendapat uang setoran. “Sorot mata bocah-bocah yang penuh harap tersebut membuat tekad kami kuat. Sekolah tersebut harus tetap jalan dan terus berkembang,” tegasnya.

Sedikit demi sedikit sekolah tersebut diperbaiki, mulai dari mengganti bilik bambu dengan batu bata seadanya dan memperbaiki lantai. Kegiatan belajar-mengajar pun berjalan makin lancar. Animo masyarakat makin tinggi, sekolah tersebut makin diminati.

Keberadaan sekolah tersebut ternyata menarik perhatian banyak pihak, pemerintah dan pihak swasta mulai memberikan bantuan, mulai dari buku hingga seragam. Tidak hanya itu, pemerintah Jepang bahkan turut memberikan sumbangan. “Kami bersyukur, perhatian tersebut diluar ekspektasi kami,” ungkapnya haru.

Kini, tidak hanya anak miskin namun keluarga yang terbilang sejahtera pun ingin menyekolahkan putra-putrinya di Sekolah Pelangi. Namun komitmen mereka tetap, sekolah tersebut mengutamakan bocah-bocah miskin. “Meski bangunan sekolah sudah cukup bagus, hingga kini dan selamanya tetap gratis untuk keluarga tidak mampu,” tekadnya.

Pria berusia 41 tahun ini berharap, kisah tersebut bisa memberi inspirasi bagi orang lain sehingga sedikit demi sedikit kesenjangan sosial bisa dikikis. Menurutnya, di negara gemah ripah loh jinawi ini, banyak sekali orang tidak beruntung yang hidup di bawah garis kemiskinan namun juga banyak sekali orang kaya melebihi dirinya. “Jika semua pengusaha atau orang yang hidup makmur mau berbagi, tidak akan ada lagi orang yang kelaparan dan bocah yang tidak bisa sekolah. Buat apa kita kumpulkan harta untuk dinikmati sendiri, toh tidak dibawa mati,” tegasnya.

Asah Hati dengan Mengamen

Kelapangan hati agar mau membagikan sebagian harta yang dimiliki, menurutnya juga harus diasah. Untuk itu, dirinya berusaha mengasahnya terus-menerus dengan berbagai cara. Salah satu metode asah hati yang dilakukan Ardyan terbilang unik, yakni mengamen. Bersama beberapa rekannya, Ardyan terkadang mengamen dari pintu ke pintu di berbagai daerah. Uang dari hasil mengamen ini kemudian dilipatkan hingga sepuluh dan diberikan kepada orang tidak mampu. Menurutnya, mengamen bisa membantunya merasakan bagaimana beratnya mencari uang bagi sebagian orang.

Sebagai salah satu pengusaha ternama yang memiliki bakat bermain musik, dirinya memang tidak bisa jauh-jauh dari alunan nada. Dirinya kerap bermain musik di kafe dan resto di Jawa Timur. Tentu saja, uangnya di berikan kepada orang tidak mampu. “Lumayan, bisa menyalurkan hobi dan berbagi,” ujarnya sambil tersenyum.

Di sela berbagai kesibukan berbagai kegiatan sosial, Ardyan tetap memperhatikan pengembangan perusahaan. Menurutnya, kemajuan perusahaan tetap yang utama, karena mustahil baginya untuk berbagi jika perusahaan tidak menghasilkan keuntungan. “Apa yang kita bagikan pada orang lain jika kita sendiri tidak punya? Karena itu, kita harus bekerja sungguh-sungguh,” katanya.

Agar tetap bisa bersaing dan makin maju, Ardyan terus berupaya melakukan perbaikan di perusahaan. Setelah jumlah armada dirasa mumpuni, kini Ardyan fokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Persaingan bisnis sekarang berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Dulu yang penting ada armada sudah bisa jalan, tapi sekarang tidak bisa seperti itu,” ujarnya serius.

Kian ketatnya persaingan bisnis jasa transportasi, mengakibatkan perubahan pola pikir konsumen. Kini, konsumen tidak hanya menilai berapa banyak armada yang dimiliki namun juga bagaimana pelayanan dari perusahaan pemilik jasa angkutan.

Menurut pria santun ini, baik-buruknya pelayanan ditentukan oleh SDM. Karena itu, PT Galena Perkasa berencana menerapkan standar ISO (International Organization for Standardization) 9001:2008. Menurutnya, dengan standardisasi tersebut maka kemampuan karyawannya bisa meningkat dan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaannya juga makin bertambah. Targetnya, tahun 2015 PT Galena Perkasa sudah memiliki standar ISO. “Bukan berarti selama ini SDM kami tidak berkualitas, namun ini merupakan upaya untuk terus maju dan berkembang,” tuturnya.

Pemilik ratusan armada yang tidak satu pun menampilkan logo maupun nama perusahaan ini berharap, perusahaan yang dipimpinnya makin sukses sehingga dirinya bisa terus berbagi dengan orang yang tidak mampu.

Teks: Dedy Bashori

Foto: Anang Fauzi



Sponsors

GIIAS Medan Auto Show