ALFI Dorong terciptanya Blockchain Logistics

12 / 04 / 2019 - in News
Blockchain Logistics

Just in time atau ketepatan waktu menjadi tuntutan pasar yang semakin tinggi dalam industri logistik saat ini. Hal ini tentunya berdampak langsung pada produktivitas, salah satunya seperti proses manufaktur yang berkaitan dengan rantai pasoknya atau supply chain di dalamnya.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyoroti aspek just in time ini dari sudut pandang ekosistem logistik. “Di sini ada proses dari mulai pemesanan baik itu impor atau domestik yang kesemuanya itu direncanakan dengan sebuah proses produksinya itu sendiri. Itu kalau kita bicaranya dari sisi manufaktur,” kata Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP ALFI, Jumat (12/04/2019).

Terkait hal itu, Yukki juga menggambarkan proses just in time dari sisi pelabuhan dan bandara yang di dalamnya terdapat regulasi-regulasi tertentu dari pemerintah. “Bagaimana barang tersebut masuk ke pelabuhan dan kemudian bisa dibawa lagi dengan kapal laut, pesawat udara, trucking, atau kereta api untuk masuk ke pergudangan atau pabrik. Bagaimana proses dari container empty itu kembali ke depo dan seterusnya, nah itu lah ekosistem logistik yang dimaksud,” urainya.

Yukki mengapresiasi langkah Pemerintah Indonesia yang akan segera menjalankan SMART Customs pada tahun ini, sebagai upaya membangun sebuah smart logistics yang berasaskan sebuah ekosistem. SMART Customs yang dimotori Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai itu nantinya terintegrasi dengan seluruh administrasi kepabeanan di dunia termasuk Ditjen Bea dan Cukai Indonesia, yang harus menjadi pusat penghubung dan pusat koordinasi di lintas batas untuk memperkuat seluruh upaya pemerintah dalam memfasilitasi perdagangan dan perjalanan. Selain itu, sebagai upaya mengurangi ancaman yang melekat pada arus barang, orang, dan alat transportasi lintas batas.

ALFI pun mendukung langkah yang dilakukan Ditjen Bea dan Cukai tadi melalui platform blockchain logistics. “Sekarang semua pihak yang terkait di logistik harus menyadari bahwa sudah tidak bisa lagi untuk selalu ingin sendiri yang pada akhirnya bermain-main dalam sebuah kekuatan sendiri. Itu tidak bisa karena nanti mentoknya di konsensus dalam blockchain,” ujar Yukki.

Menurut Yukki, kolaborasi mengacu blockchain logistics salah satunya mengedepankan aspek konsensus atau kesepakatan bersama. Misalnya ada tiga pihak, yakni pelabuhan, carrier, dan perusahaan freight forwarding. Maka domainnya masing-masing pihak di dalam blockchain tidak boleh sama, dan domain itu lah yang disepakati.

“Contoh, perusahaan freight forwarding hanya bisa baca field A, B, dan C. Sementara pihak carrier-nya hanya bisa baca field D, E, F. Sedangkan pihak pelabuhan hanya bisa baca field G, H, I. Intinya, hanya informasi-informasi yang dibutuhkan saja yang dapat dibuka atau diakses oleh masing-masing pihak terkait,” jelasnya.

 

Editor: Antonius
Ilustrasi: Blockchain logistics – Istimewa

 

 



Related Articles

Sponsors

NEW_327X300_

NEW_327X300_

web-banner-327x300 truck

logo-chinatrucks300 327pix