Aptrindo Jateng Imbau Pengelola E-toll Card Mau Jemput Bola

02 / 11 / 2017 - in Berita

Penerapan transaksi elektronik menggunakan kartu e-toll di seluruh ruas tol yang dioperasikan PT Jasa Marga, disambut baik oleh para pelaku bisnis angkutan barang yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo). Meski baru 2 hari diterapkan sejak 31 Oktober kemarin, para sopir truk anggota Aptrindo sudah terbiasa melakukan pembayaran non tunai (cashless) di jalan tol menggunakan e-toll card.

Pasalnya, sejak beberapa waktu belakangan ini Aptrindo sudah gencar melakukan sosialisasi kepada para sopir truk terkait penggunaan e-toll card. Namun menurut hasil pengamatan di lapangan dan berdasarkan laporan dari sopir-sopir Aptrindo, penggunaan kartu e-toll masih banyak kelemahannya dan perlu dibenahi.

Menurut Ketua Bidang Angkutan Distribusi dan Logistik DPD Aptrindo Jawa Tengah (Jateng) Dedy Untoro Harli, e-toll card fungsinya tak lebih hanya seperti pengganti uang kes di dalam dompet. Jika sampai hilang, menurutnya, maka seluruh saldonya pun akan hilang dan tidak bisa dialihkan ke kartu yang baru.

“Hal ini tentunya berbeda dengan kartu ATM yang tidak akan hilang saldonya di Bank, walaupun fisik kartunya hilang. Padahal kebanyakan sopir truk jarang yang bisa tertib dan rapi menyimpan kartu seperti itu,” kata Dedy dalam keterangan resminya kepada TruckMagz, Rabu (1/Okt).

Dedy Untoro Harli-Aptrindo Jateng_TruckMagz
Dedy Untoro Harli

Permasalahan yang kerap terjadi, menurut Dedy, e-toll card sering gagal digunakan dengan sekali sentuhan dan sopir harus melakukannya berulang kali, atau kadang harus membunyikan klakson terlebih dulu baru portalnya bisa terbuka. “Akibat dari slow response dan e-toll card berulang kali dicoba ditempelkan, tak jarang pada sekali melintas gerbang tol saldonya berkurang dobel atau uang tertarik 2 kali lipat dari yang seharusnya,” ujarnya.

Dedy menambahkan, ada pula kasus e-toll card yang tidak dapat difungsikan di gerbang tol yang satu, namun bisa kembali berfungsi ketika digunakan di gerbang tol yang lain. Hal ini menurutnya, dimungkinkan akibat card reader yang digunakan berasal dari banyak merek dengan tingkat sensitifitas yang berbeda-beda. Padahal sopir sudah terlanjur membeli e-toll card yang baru, dan akibatnya seorang sopir bisa memiliki beberapa kartu e-toll yang sering membingungkan dirinya.

Transaksi menggunakan e-toll card juga ada batas waktunya. Jika dari gerbang asal (tap in) ke gerbang akhir (tap out) lebih dari 12 jam, maka transaksi akan dibatalkan secara otomatis. Padahal sering terjadi sopir truk ketiduran atau melakukan perbaikan kendaraan di rest area sambil menunggu bantuan mekanik atau kiriman spare parts dari poolnya (stooring).

Menurut Dedy, beberapa sopir juga melaporkan adanya kesalahan golongan. Misalnya kendaraan yang seharusnya masuk golongan 1 ternyata terdeteksi sebagai golongan 3, atau kendaraan yang seharusnya masuk golongan 4 terdeteksi sebagai golongan 2. Selain itu, lanjutnya, keterbatasan lokasi pengisian saldo (top up) yang hanya bisa dilakukan di mini market dan bank yang kadang keberadaannya jauh dari pool, juga menjadi kendala lain.

“Aptrindo mengimbau agar bank-bank penerbit e-toll card mau menjemput bola dengan mendatangi pool-pool besar truk dan menginstal alat pengisi saldo (top up), bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan truk anggota Aptrindo dengan diskon khusus seperti yang berlaku pada mini market yang menjadi partnernya,” kata Dedy.

 

Editor: Antonius
Foto: Anton, Aptrindo Jateng



Related Articles

Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix