Aptrindo Sambut Baik Penerapan Jembatan Timbang Mulai 1 Maret

27 / 02 / 2017 - in Berita

Keputusan pemerintah merealisasikan Peraturan Menteri Perhubungan (PM) Nomor 134 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Penimbangan Kendaraan Bermotor di Jalan pada 1 Maret 2017 mendatang, ditanggapi positif oleh Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo). Kebijakan tersebut dinilai Aptrindo lebih banyak membawa dampak positif bagi pengusaha angkutan.

PM 134 Tahun 2015 yang bakal diterapkan pada 1 Maret ini merupakan realisasi pengalihan fungsi jembatan timbang di daerah ke pusat. Regulasi tersebut juga mengatur mengenai pembatasan muatan, dimana muatan harus sesuai Jumlah Berat yang Diizinkan (JBI) plus 5%. Serta pemberlakuan penimbangan portabel yang dilakukan di pintu-pintu kawasan industri, pintu tol, rest area dan jembatan timbang.

Wakil Ketua Dua Aptrindo Sugi Purnoto mengaku bila pengusaha angkutan siap mendukung penerapan PM 134 Tahun 2017. “Pengusaha angkutan mendukung dan sepenuhnya telah siap. Justru pihak yang tidak siap adalah user atau pengguna jasa angkutan barang,” kata Sugi.

Menurutnya, selama ini pengguna jasa angkutan menentukan harga berdasarkan kenaikan harga BBM dan tidak pada batas toleransi muatan. Pembatasan ini membuat kenaikan biaya transportasi menjadi hampir 100℅.

“Pengusaha angkutan akan sangat senang karena sebelumnya mereka angkut barang berat dengan harga, katakanlah Jakarta-Surabaya dengan ongkos 6 juta, tapi dengan aturan ini mereka angkut barang setengahnya dengan tarif yang sama,” paparnya.

Meski demikian, Sugi mengaku bila penerapan PM 134 Tahun 2015 juga membawa dampak negatif seperti halnya barganing tarif angkutan dengan kereta api.

“Misal tarif angkutan wingbox Jakarta-Surabaya 6 juta, sedangkan kereta api untuk satu kontainer twenty diberikan veloz 18 ton dengan harga 5,6 juta. Jadi harga kereta api lebih murah dibandingkan dengan truk yang hanya mampu angkut 11 ton. Namun itu tidak berlaku bagi pengguna jasa angkutan yang menggunakan volume base, karena mereka akan pilih truk,” papar Sugi.

Meski demikian, Sugi mengaku tidak cemas dengan persaingan tersebut. Karena menurutnya, kereta api tidak dapat menyerap banyak muatan truk. “Yang jelas user akan negosiasi dengan pemilik angkutan. Karena barang yang diangkut tonasenya lebih rendah. Kalau semula 6 juta, mungkin akan dinego 5,5-5 juta dan tidak bisa di bawah itu,” katanya.

Adanya pengurangan tonase sebagai dampak kebijakan membuat pengusaha angkutan harus menghitung ulang biaya angkutan mereka. Karena tidak ada truk yang over tonase membuat pungli di jalan dan jembatan timbang jadi tidak ada. Selain itu, pengurangan tonase juga dapat menurunkan pemakaian BBM hingga 10%.

 

Teks: Citra
Editor: Antonius
Foto: Pebri



Related Articles

Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix