Ingin Cost Ban Jadi Murah, TMS Solusinya

02 / 08 / 2016 - in Ask The Expert
Tire Management System

Dalam bisnis angkutan barang, ban merupakan komponen penting karena cost yang dikeluarkan untuk pengadaan si karet bundar pada truk ini merupakan yang tertinggi kedua setelah bahan bakar minyak (BBM). Untuk menekan biaya dan melakukan perawatan ban, pemilik perusahaan angkutan kerap mendatangkan orang atau perusahaan yang mampu melakukan tire management system (TMS).

Namun selama ini, tire management system hanya dipahami oleh perusahaan angkutan sebagai software dan bukan melakukan upaya perawatan menyeluruh guna mengoptimalkan pemakaian ban itu sendiri. Padahal TMS dapat menjadi alternatif bagi pengusaha angkutan, karena upaya ini menjanjikan penurunan cost ownership ban secara keseluruhan.

Tanpa adanya TMS pengusaha angkutan akan mengalami kerugian sekitar 50-100% dari optimalisasi pemakaian ban pada umumnya. Salah satu contoh dari kerugian tidak menggunakan TMS adalah lupa memasang tutup pentil ban yang mengakibatkan masuknya kotoran ke dalam pentil. Hal kecil ini bisa menyebabkan angin keluar dari ban secara perlahan dan mengalami run flat (kempes menggelinding) yang berakibat pada kerusakan ban secara total.

“TMS mulai dilirik sekitar tahun 2000 an atau pada saat ban truck radial mulai dilirik oleh perusahaan angkutan yang bermain di on road. Kalau di medan off road, seperti halnya perusahaan tambang yang  menggunakan giant tire, mereka sudah familiar menggunakan TMS sejak awal,” ujar Sondi Yutendra Nugroho, Fleet Manager Development Asean Commercial PBU PT Goodyear Indonesia.

Menanggapi atas banyaknya kesalahan persepsi dari pengusaha angkutan, Sondi menuturkan bila proses TMS lebih dari sekedar penggunaan software. Menurut Sondi, TMS yang sebenarnya adalah suatu proses menyeluruh yang dimulai dari proses pemilihan ban baru, pemasangan pada hub roda truk, tekanan angin yang sesuai, perawatan ban, perawatan kaki kaki kendaraan, mengatur muatan, dll.

Guna mendapatkan layanan TMS yang benar, Retread Sales Manager PT Goodyear Indonesia, Andri Wahyu Medayanto menyarankan, agar para pemilik angkutan mempercayakan TMS dan berkonsultasi pada pihak pabrikan ban.

“Kesalahan konsumen TMS saat ini adalah pola pikir bahwa software adalah TMS, padahal software hanya pelengkap saja. Untuk software, umumnya pabrikan ban memilikinya, seperti kami dari Goodyear juga mempunyai software pelengkap TMS yang disebut My Goodyear TMS.  Inilah edukasi yang ingin kami berikan kepada konsumen,” kata Andri.

Andri menambahkan, upaya TMS yang benar adalah memadukan antara penggunaan software dan memperlakukan ban sesuai dengan ketentuan dalam TMS. Karena upaya ini dapat memaksimalkan cost ownership ban. Selain itu, yang tidak kalah penting dalam proses TMS, yakni melakukan vulkanisir secara baik dan benar pada ban yang telah mencapai batas pemakaian.

Lantas, seperti apa proses TMS yang baik dan benar? Simak selengkapnya pada rubrik Variasi di majalah digital Truckmagz edisi Juni 2016, halaman 82. Atau klik tautan ini, https://www.getscoop.com/id/majalah/truck-magz/ed-24-jun-2016

 

Teks: Citra D
Editor: Antonius S
Foto: Istimewa



Sponsors

GIIAS Medan Auto Show