Ban yang Aman di Musim Hujan

12 / 11 / 2019 - in Ask The Expert, News

Musim penghujan telah tiba, setiap perubahan musim pasti membawa berkah bagi sebagian orang sekaligus juga membawa masalah bagi sebagian lainnya. Bagi sebagian besar orang yang sering bepergian dengan kendaraan bermotor, datangnya musim penghujan merupakan masalah yang harus dihadapi. Selain jarak pandang sering terbatasi oleh tirai air, permukaan jalan juga jadi licin.
Namun tidak perlu terlalu khawatir untuk tetap bepergian baik perjalanan dinas maupun perjalanan wisata, karena semua masalah pasti ada solusinya.

Yang perlu anda perhatikan sebelum berkendaraan adalah memeriksa pressure ( tekanan udara dalam ban ), oil ( oli mesin, gardan, transmisi dan rem ), water ( air / cairan khusus radiator ), electricity ( segala yang berkaitan dengan elektrik kendaraan ), rubber ( ban, kipas kaca dan karet seal ) atau yang biasa disingkat dengan ‘Power’. Untuk menghadapi musim hujan yang harus mendapat perhatian khusus adalah ban dan kipas kaca.

Disamping memeriksa tekanan udara dalam ban, kita juga perlu meneliti usia ban dan sisa kedalaman telapak ban. Sebab ban sering harus bekerja ekstra keras untuk tetap bisa mempertahankan daya cengkeramnya di permukaan jalan basah. Tekanan udara dalam ban adalah hal yang paling krusial dan harus selalu disesuaikan dengan beban muatan kendaraan agar telapak ban mampu menapak secara merata pada permukaan jalan. Jika tekanan udara dalam ban terlalu tinggi, maka hanya bagian tengah telapaknya saja yang akan menapak di permukaan jalan.

Sebaliknya jika tekanan udara dalam ban terlalu rendah, maka hanya kedua sisi telapaknya saja yang akan menapak pada permukaan jalan. Telapak ban harus mendapatkan kontak yang sempurna dengan permukaan jalan, supaya kemudi kendaraan mudah dikendalikan, mengurangi resiko ban meledak akibat overheated (panas berlebihan) dan irit bahan bakar.

Jika sisa kedalaman telapak ban sudah menyentuh tread wear indicator / TWI (batas aman pemakaian ban yang berupa tonjolan pada alur telapak ban), itu tandanya ban sudah harus diganti.

Sedangkan tentang usia ban merupakan hal yang masih sering diperdebatkan, karena masing-masing pabrik sering berbeda claim atas usia kadaluwarsa produknya. Prinsipnya ban harus sering ditraining dan jangan terlalu lama diistirahatkan tanpa bergerak. Karena ban yang jarang bergulir akan lebih cepat mengalami proses pelapukan (oksidasi) dan menjadi getas.

Telapak ban yang sudah tipis akan memperpanjang jarak pengereman, selain akan kehilangan fungsi menyibak air guna mendapatkan daya cengkeram ketika melintas di permukaan jalan basah atau tergenang air. Maka kendaraan akan mengalami kondisi yang disebut sebagai Aquaplaning.

Aquaplaning adalah suatu peristiwa, ketika ban secara tiba-tiba kehilangan traksi terhadap permukaan jalan dan kendaraan seolah berselancar secara liar tidak terkendali ketika sedang berjalan melintasi water film (lapisan air) atau genangan air.

Lantas bagaimana prioritas penggantian ban mobil, jika dana yang dimiliki hanya cukup untuk membeli 2 dari 4 ban yang ada di mobil? Memang idealnya semua ban mobil yang telapaknya sudah tipis, wajib untuk diganti. Namun jika dana yang dimiliki terbatas dan hanya cukup untuk membeli 2 ban saja, disini lah seringnya timbul perdebatan. Ada yang beranggapan sebaiknya ban depannya saja yang diganti, namun ada juga yang beranggapan sebaiknya ban belakangnya saja yang diganti. Kedua pendapat tersebut sama-sama benar, tergantung dari argumen yang melandasinya.

Yang harus kita pahami adalah, kendaraan yang mengalami understeer maupun oversteer sama-sama berbahayanya. Understeer adalah situasi dimana kendaraan sedang berbelok dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ban depan kehilangan traksinya, sehingga kendaraan tidak dapat dibelokkan dan meluncur lurus tak terkendali sampai nyelonong keluar dari jalan. Oversteer adalah situasi dimana kendaraan sedang berbelok dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ban belakang kehilangan traksinya, sehingga kendaraan seolah mendapatkan thrust (dorongan) sangat kuat dari belakang, sehingga tak jarang berakibat kendaraan melintir atau berbalik arah menghadap ke belakang.

Akhirnya dengan pertimbangan yang sulit akibat keterbatasan dana, saya sarankan untuk mengganti ban sesuai dengan gardan tarikan mobilnya saja. Jika tarikannya roda depan, maka ban depan lah yang patut mendapat prioritas penggantian lebih dulu. Jika tarikannya roda belakang, maka ban belakang lah yang patut mendapat prioritas penggantian lebih dulu.

Oleh

Bambang Widjanarko
DOUBLESTAR Tire Engineer
Wakil Ketua APTRINDO JATENG & DIY

Editor : Sigit A



Sponsors

 

 

AFFA-logisticsphotocontest 

logo-chinatrucks300 327pix