Dengan STC, Pengusaha Trucking Tak Lagi di-Bully

08 / 08 / 2017 - in Events, News
DSC_6621 e

Sejatinya transportasi adalah pergerakan barang dari satu titik ke titik yang lain yang membutuhkan suatu bentuk angkutan yang efisien dan dapat dilaksanakan dengan cepat. Untuk mencapai itu dibutuhkan suatu sistem agar mencapai efisiensi biaya yang tujuannya mengurangi atau menghilangkan sama sekali kendala-kendala yang mempengaruhi pelaksanaan sistem angkutan transportasi. Kendala bisa muncul karena ketidakjelasan kontrak antara pemilik barang dan jasa angkutan. Berdasar hal itu, Indonesia Truckers Club TalkBiz Balikpapan 2017 yang diselenggarakan di Hotel Novotel Balikapapan 8 Agustus 2017 mengangkat tema “Standard Trading Conditions” yang didukung sepenuhnya oleh Mobil Delvac by ExxonMobil,

Acara ini menghadirkan narasumber yaitu Kyatmaja Lookman Wakil Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Dewi Noraeni Customer Service Manager PT. Agility International sekaligus Anggota Departemen Diklat DPD Aptrindo DKI Jakarta dan Yukki Nugrahawan Hanafi Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesi (ALFI) dan Yoshendri Marketing Direktur PT Asuransi Recapital Reguard.

DSC_6610 e

Pembahasan Standard Trading Conditions(STC) ini dibuka oleh Kyatmaja sekaligus perwakilan pengusaha truk. Ia berpendapat bahwa pengusaha truk ini terkadang mendapat bully dan tekanan dari pemilik barang “Ketika melakukan tender dengan konsumen. Mereka selalu meminta harga lebih rendah dan jika menolak mereka memili kompetitor kita. Dan kebanyakan konsumen, menekankan STC yang mereka miliki ke transporter. Dengan keadaan seperti ini menyebabkan pengusaha transportasi memiliki posisi lemah. Bahkan seringkali menerima keadaan, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Maka hadirnya STC ini lewat asosiasi bisa menjadi payung bagi pengusaha transportasi,” bukanya.

Dewi juga sependapat dengan Kyatmaja dalam hal STC. “Karena cakupan pengguna jasa trucking dimana kendala yang kami tangani utamanya adalah tidak jelasnya syarat dan ketentuan dalam penawaran dan kontrak yang tidak jelas, misal barang rusak atau hilang. Sebagian besar kontrak tertulis jika ada perseslisihan akan diselesaikan secara musyawarah. Perselisihan seperti apa? Musyawarah seperti apa ? Dan Bagaimana jika tidak bisa mufakat? Salah satu yang paling aman adalah jika asosiasi yang kita naungi memilki STC. Memang perlu effort yang luar biasa saat penyusunan karena dimungkinkan masing-masing daerah akan punya keputusan sendiri berdasakan bisnisnya juga,“ terangnya.

Kyatmaja paham proses memulai untuk memiliki STC di asosiasi ini cukup panjang. “ Pertama harus di dukung oleh kementerian terkait, lalu harus didaftarkan ke kemenkumham, juga Mahkamah Agung yang mana nanti STC ini akan diuji. Sehingga STC ini berlaku secara nasional,” tambahnya.

Satu hal penting yang coba ia jelaskan adalah dengan adanya STC ini maka ada batas maksimal liability untuk jasa transportasi, harapanya pemilik barang menjadi sadar untuk mengasuransikan barangnya. “Setelah memiliki STC dari asosiasi, pengusaha akan jauh menjadi lebih kuat dari pada STC perusahaan sendiri. Selain itu juga demi kelangsungan bisnis trucking. Pihak asuransi juga bisa bertumbuh. Karena pemilik barang tahu jika ada musibah, maka barang diganti maksimal nilai yang ada di STC. Dengan STC ini, semua pemilik barang wajib mengasuransikan barangnya dan ini bisa berlaku secara nasional. Kami akan perjuangkan itu,“ tegas Kyatmaja

DSC_6663 e

Sebagai salah satu asosiasi yang sudah memiliki STC, Yukki menyampaikan pengalamannya. “STC ini disamping untuk melidungi perusahaan dari pengeluaran yang cukup besar jika terkena musibah. Bisa memberikan proteksi pada bisnis. Karena ALFI yang merupakan bagian dari International Federation of Freight Forwarders Association (FIATA), kami tinggal melanjutkan saja tanpa harus membuat lagi liability insurance di Indonesia. Hal ini berlandaskan pada Permenhub No 49 tahun 2017 Bab IX Pasal 17 intinya tentang tanggung jawab. Ada acuan hukum bagi kami Standar trading Condition, adalah berbagai ketentuan mengenai jasa angkutan barang yang disusun oleh asosiasi dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Yukki menjelaskan mengenai ruang lingkupnya yaitu Standard Trading Condition berlaku bagi seluruh Perusahaan Penyedia Jasa dan/atau memiliki Surat Izin Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (SIUJPT) termasuk Surat Izin Ekspedisi Muatan Kapal Laut dan Kapal Udara yang telah disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan .

STC juga berlaku atas segala jenis jasa yang diberikan oleh, penyedia jasa logistik dan pengusaha jasa pengurusan transportasi termasuk didalamnya pengusaha pengurusan jasa kepabeanan dan jasa ekspedisi yang meliputi jasa angkutan multimoda, dan kegiatan penunjangnya yaitu pengurusan transportasi, pergudangan, konsolidasi muatan; penyediaan ruangan muatan. dan/atau kepabeanan untuk angkutan multimoda ke luar negeri dan ke dalam negeri. STC ini tidak berlaku dalam hal perusahaan penyedia jasa berdasarkan ruang lingkup jasa yang ditentukannya sendiri atau berdasarkan kontrak pengangkutannya dengan pengguna jasa yang mengangkut muatannya melalui jalan darat dengan alat angkutnya sendiri.

Teks : Sigit A

Foto : Giovanni V



Sponsors

TruckMagz Konstruksi Indonesia

TruckMagz Transport, Logistics & Maritime

GIIAS TruckMagz 2017