Dukung Kebijakan Pemerintah, Isuzu Ciptakan Ekosistem yang Berkeselamatan

17 / 06 / 2021 - in Berita

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan Indonesia bebas kendaraan Over Dimensi dan Over Loading (ODOL) pada tahun 2023. Kemenhub terus berupaya memperbaiki sekaligus menangani permasalahan ODOL dari hulu hingga ke hilir. Salah satunya adalah dengan normalisasi truk yang overdimensi.

Reiner Tandiono, Technical Warranty Dept Head Isuzu PT Astra Motor Indonesia (IAMI) menjelaskan bahwa Isuzu turut mendukung kebijakan pemerintah memerangi kendaraan ODOL.
Reiner melanjutkan, banyak truk ODOL itu sendiri karena terdapat pengusaha mencoba memaksimalkan tambahan keuntungan dan memenangi persaingan yang kompetitif dengan menambah beban barang pada truk. Praktek ini pun berujung pada kurang pedulinya pada keselamatan pengguna jalan lain.

“Dampak kecelakaan akibat truk ODOL akan lebih besar bagi bisnis. Seperti kehilangan produksi, lost time, bertambanya beban biaya perusahaan, hingga kehilangan kontrak dengan klien,” jelas Reiner dalam webinar Sistem Manajemen Keselamatan Angkutan Umum, Isuzu Peduli Keselamatan pada Kamis (17/6).

“Ikut serta mendukung kebijakan pemerintah, kami menciptakan ekosistem yang bebas dari ODOL dengan mempertimbangkan aturan pemerintah atau sesuai regulasi. Isuzu selalu menjalankan program Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) untuk setiap kendaraan barunya. Kami juga telah melakukan sertifikasi pada 41 karoseri partner untuk memastikan karoseri yang bekerja sama dengan Isuzu adalah perusahaan yang taat aturan pemerintah, salah satunya mengurus Surat Keterangan Rancang Bangun (SKRB). Isuzu juga melakukan Training front Liner terkait penggunaan unit dan aturan ODOL,” tambah Reiner.

Memiliki tujuan sama mensosialisasikan keselamatan berkendara, Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mendorong pemberlakukan sertifikasi pengemudi angkutan umum untuk menekan penyebab kecelakaan yang terjadi karena ketidakpahaman pengemudi atas teknologi kendaraan yang dikemudikan.

“Kondisi pengemudi yang tidak memahami teknologi kendaraan diperparah dengan kenyataan bahwa perusahaan yang mempekerjakannya tidak paham mengenai manual pemeliharaan, manual kelistrikan dan manual pengoperasiannya yang harusnya diterima ketika membeli kendaraan,” tegas Wildan dalam acara Webinar yang digelar atas kerjasama IAMI dan Truckmagz.

Sertifikasi pengemudi bertujuan untuk menambah kompetensi spesifik untuk mengemudikan kendaraan tertentu. “Hal seperti itu tidak bisa didapat jika mengandalkan kepemilikan SIM saja yang hanya mengajarkan hal dasar mengemudi. Dalam praktik di jalan, pengemudi perlu menguasai kendaraan yang dia kemudikan termasuk pemahaman soal teknologinya. Kita bisa mengacu pada negara lain, pengemudi angkutan umum harus disertifikasi. Sementara disini tidak, jaminan keselamatan tidak hanya dari SIM dan pengalaman mengemudi yang panjang,” kata Wildan

Menurut Wildan sertifikasi pengemudi angkutan umum bisa merujuk penerapan sertifikasi di penerbangan yang mendapatkan pelatihan berjenjang. Karena pada dasarnya setiap produk pesawat punya teknologi dan cara pengendalian berbeda-beda yang mesti dikuasai dengan kompetensi khusus.

Editor : Sigit

Foto : TruckMagz



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix