OtoBus

Ini Bedanya Bus Indonesia dengan Versi Luar

30 / 01 / 2019 - in News
Busworld Southeast Asia Jakarta

Pameran Busworld Southeast Asia Jakarta yang akan digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 20-22 Maret mendatang, bukan dijadikan ajang untuk membawa produk luar ke Indonesia, melainkan untuk memperkenalkan teknologi dan inovasi terkini seputar bus yang belum ada di Indonesia.

Menurut Direktur PT Global Expo Management (GEM Indonesia) Baki Lee, hal yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah kualitas bus di Indonesia tidak kalah dengan bikinan China. “Namun dari teknologi yang sudah mereka pakai, mungkin mereka sudah sangat up to date, seperti penggunaan standar emisi yang sudah sampai Euro VI sementara kita baru mau mulai masuk Euro IV sudah setengah mati,” kata Baki.

Secara teknis, perbedaan mencolok bus bikinan Indonesia dengan luar negeri dari sisi kesesuaiannya. “Bus bikinan karoseri Indonesia sangat memperhatikan efek body twisting, body rolling, dan vibration. Semuanya komplet. Saya tidak setuju kalau ada yang mengatakan kualitas bus Indonesia tidak lebih baik dari kualitas bus bikinan Jepang. Saya berani beradu untuk dites jalan di Indonesia,” kata Kurnia Lesani Adnan, Ketua Pengurus Besar (PB) Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (Ipomi).

Pemilik PO SAN (Siliwangi Antar Nusa) ini menambahkan bila infrastruktur di Jepang juga berbeda dengan Indonesia. “Aspal di Jepang sudah berbeda dengan di Indonesia. Betul jalan tol kita sudah bagus dan terlihat mulus tetapi bumpy (bergelombang). Kemudian vibration-nya tinggi karena jalan tol kita banyak pakai beton dengan permukaan yang kasar, alasannya agar ketika hujan tidak terlalu licin padahal ban kami dikukur terus tetapi apa boleh buat. Jadi kalau bicara struktur karoseri yang ada di karoseri Indonesia itu sudah sesuai dengan kebutuhan jalan di Indonesia,” urai Sani sapaannya.

Sani menjelaskan bahwa lima tahun lalu perusahaannya pernah membeli bus Yutong dari China, yang didatangkan oleh Karoseri New Armada dan sampai saat ini masih beroperasi. Kondisi bus tersebut kini banyak terdapat retak di bagian sudut bodi bus.

“Karena di sana mereka tidak mengantisipasi efek body twisting secara maksimal, seperti yang dilakukan karoseri di Indonesia. Daerah saya di Bengkulu sampai ke Curup (Sumatera Selatan) dengan jarak sekitar 300 km lebih itu medannya mulai dari pantai, naik gunung, turun menyusuri tebing gunung. Jadi efek body twisting sangat tinggi di sini,” kata Sani.

Menurut Sani, tampilan bodi bus bikinan Jepang atau China memang terlihat sangat bagus dipandang, karena struktur rangkanya menggunakan tipe profil atau pelat yang ditekuk menjadi model U untuk merentangkan supaya bodi menjadi flat.

“Di tempat mereka tidak salah karena infrastrukturnya sudah tepat. Sedangkan di Indonesia belum begitu tepat menggunakan tipe struktur seperti itu namun kreasi karoseri lokal Indonesia, dengan struktur rangka square tube dan konstruksi floor monocoque supaya bagasi lebih besar, itu sudah tepat sampai hari ini menurut saya,” urai Sani.

Ketua Umum Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) Sommy Lumadjeng mengatakan, secara kualitas, produk bus bikinan karoseri Indonesia di atas India namun tidak kalah dengan Eropa. “Produk karoseri Indonesia kualitasnya lebih baik dari India, tetapi harganya lebih terjangkau daripada bus Eropa dan India,” Sommy.

“Sudah saatnya kita unjuk gigi. Kalau sekadar ekspor ke negara seperti Fiji kita sudah mampu, karena Karoseri Laksana sudah mengekspor 200-an unit bus ke sana dan populasi bus bikinan Indonesia cukup banyak di Fiji,” ungkap Sani.

Sommy mengatakan, berdasarkan data dari anggota Askarindo memang sudah ada beberapa perusahaan karoseri yang telah mengekspor bus ke beberapa negara. “Secara organisasi kami juga menginginkan akan tumbuhnya pengekspor-pengekspor baru. Busworld menjadi kesempatan bagi industri karoseri Indonesia untuk bisa memamerkan kecanggihan dari produk karoseri kita, sebagai produk lokal yang bisa tampil di dunia,” ujarnya.

Busworld Southeast Asia Jakarta juga bisa menjadi ajang berbagi informasi terkait prosedur ekspor bus. “Pengusaha karoseri Indonesia masih banyak yang belum paham tentang prosedur ekspor produk karoseri, seperti sasis bus yang dibikin di Indonesia belum bisa diekspor karena spesifikasinya tidak meet dengan kebutuhan pasar di negara tujuan. Salah satunya terkendala standar emisi Euro,” kata Sommy.

 

Editor: Antonius
Ilustrasi: Dok. TruckMagz



Related Articles

Sponsors

NEW_327X300_

NEW_327X300_

web-banner-327x300 truck

logo-chinatrucks300 327pix