Ini Kesiapan Isuzu Hadapi Regulasi Euro 4

03 / 02 / 2020 - in Berita

Regulasi mengenai standar gas buang atau emisi kendaraan bermotor di Indonesia, telah memasuki standar Euro 4. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O, atau yang lebih dikenal dengan standar emisi Euro 4. Tahapan pelaksanannya Euro 4 di Indonesia mulai berlaku tahun ini untuk kendaraan berbahan bakar bensin, dan tahun 2021 mulai berlaku untuk kendaraan bermotor berbahan bakar solar.

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) selaku perwakilan pabrikan dan agen pemegang merek kendaraan Isuzu di Tanah Air, menyatakan kesiapannya menghadapi regulasi Euro 4 ini. “Kami senang mendengar hal mengenai Euro 4 karena memang kita harus sama- sama mendukung kemajuan negara Indonesia. Negara- negara lain sudah melakukan itu, seperti Singapura, Thailand, dan negara lainnya sudah beralih ke Euro 4 bahkan lebih. Di sini, Isuzu sudah sangat siap dalam menghadapi regulasi pemerintah mengenai Euro 4, karena kami sudah memiliki engine yang mendukung Euro 4 sejak tahun 2011, yaitu engine common rail,” kata Ernando Demily, President Director IAMI di Jakarta.

Secara teknis, untuk mendukung penerapan Euro 4, perlu bahan bakar solar dengan kandungan CN (Cetane Number) minimal 51 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm (parts per million). GM Product Development IAMI, Tonton Eko B. mengatakan, dampak penggunaan bahan bakar solar dengan kadar sulfur tinggi di mesin diesel dapat memicu beberapa masalah. “PM cenderung naik jika kadar sulfur semakin tinggi. Sulfur teroksidasi saat pembakaran dan bereaksi dengan catalyst, sehingga menimbulkan asap putih. Sulfur terkondensat menjadi H2SO4 mengakibatkan dinding silinder dalam ruang bakar mudah berkarat,” urainya.

Teknologi mesin diesel yang digunakan pun perlu menyesuaikan dengan bahan bakar solar yang dipersyaratkan tadi. Kendaraan bermesin diesel perlu penambahan Exhaust Gas Recirculation (EGR) dan Diesel Oxidation Catalyst (DOC). “EGR untuk mensirkulasi gas buang sehingga temperatur intake tidak terlalu tinggi. Artinya, kadar NOx-nya tidak tinggi. Kemudian DOC berguna untuk menurunkan NOx dan PM. Dalam hal ini, Isuzu telah melakukan penyesuaian spesifikasi guna memenuhi standar emisi Euro 4,” kata Tonton. Ia menambahkan, EGR dan DOC juga sangat rentan rusak jika menggunakan solar dengan kadar sulfur tinggi. “Artinya, teknologi Euro 4 mementingkan BBM yang tepat,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, kadar NOx (Nitrogen Monoksidan dan Nitrogen Dioksida) berlebihan dapat menimbulkan efek kesehatan, seperti sesak napas, bronchitis, kanker, hingga pada kadar 100 ppm dapat menyebabkan kematian. Sedangkan menghirup PM (Particulate Matter) dalam waktu singkat dapat memicu sakit tenggorokan, iritasi mata, dan asma. Untuk jangka panjangnya, akan memicu masalah, seperti berkurangnya fungsi paru-paru dan kardiovaskuler.

 

Editor: Antonius
Foto: IAMI

 



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix