Kembangkan Wisata ala Backpacker

21 / 07 / 2015 - in CEO Interview
c_7

Memutuskan meninggalkan zona nyaman sebagai karyawan, Purnama Dewi memilih memulai bisnis tour and travel tanpa pengalaman samasekali. Wisata ala backpacker menjadi peluang yang menjanjikan yang kini dikembangkannya.

Bagi Purnama Dewi menjadi mompreneur bukanlah hal tabu. Menurutnya, wanita termasuk ibu rumah tangga tidak perlu membatasi diri. Wanita dengan pria hanyalah simbol dengan embel-embel berbeda gender semata. Ibu dua anak ini meyakini wanita mempunyai kemampuan yang sama dengan pria. Soal berhasil atau tidak, semua tergantung usaha dan niatnya.

Menapaki awal karier sebagai marketing promotion staff tahun 2006 di sebuah mal di Surabaya, dunia kerja Dewi sangatlah dinamis. Sepanjang waktu lulusan Teknik Industri ini menemui banyak orang dengan beragam latar belakang pendidikan, profesi dan sosial. Terlebih sebagai marketing staff, ia pun dituntut dengan target yang tak jarang membuatnya memeras otak agar selalu kreatif dan pintar membaca celah bisnis.

Menariknya, Dewi mampu mengatasi itu semua bahkan ia pada tahun keempat bekerja, Dewi membaca peluang bisnis lain. Ia membuka bisnis penjualan tiket pesawat dengan sasaran pelanggan teman dekat, rekan kerja, dan para kliennya. Pemilihan bisnis ini bermula dari kejelian Dewi melihat ayahnya yang mempunyai mobilitas tinggi karena memiliki bisnis di dua kota berbeda, Jakarta dan Bali. Ditambah beberapa rekan kerja dan klien yang memiliki mobilitas serupa.

“Ayah saya sering bolak-balik melakukan perjalanan jauh. Saya melihat itu sebagai peluang bisnis untuk membuka usaha jual-beli tiket. Dengan pertimbangan harga tiket yang dijual akan lebih murah dan modal relasi yang saya punya juga bisa digunakan untuk membuka jasa tour and travel,” katanya. Dewi memulai bisnisnya dari nol tanpa samasekali berpengalaman dalam bisnis tersebut. “Semua saya jalani dari nol. Mulai dari lobi dan selebihnya hanya mengalir begitu saja,” tutur Dewi.

Enam bulan menjalani bisnis, barulah ada tawaran untuk membuka jasa tour and travel secara online. Tawaran itu tak lantas otomatis langsung diiyakan. Dewi mengalami kegamangan saat memutuskan harus memilih antara tetap berkarier sebagai marketing staff atau merintis bisnisnya dengan menelan risikonya. Situasi itu Dewi manfaatkan untuk berkonsultasi kepada ayahnya. Dengan perawakan kerasnya, cerita Dewi, si ayah akhirnya merestui kemauan wanita berkulit putih ini untuk merintis bisnisnya.

Keputusan yang berat bagi Dewi. Tapi ia mencoba mengambil nilai positif atas keputusannya itu. Sisi positif yang didapat Dewi tak lain waktu yang dimiliki akan lebih fleksibel. “Selama kerja di mal saya kesulitan untuk liburan mengingat jam kerja saya mengikuti jam operasional mal pada umumnya. Dengan begitu, saya mesti pintar-pintar untuk mengumpulkan jatah libur saya supaya bisa traveling,” tuturnya. Keuntungan lain, Dewi akan memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga terutama anak-anaknya.

“Mau sampai kapan sih ikut orang. Saya mending pusing atau sakit tapi karena mengurusi usaha sendiri daripada menangis karena dimarahi bos,” papar Dewi. Ia sempat berpikir jika bisnisnya hanya dijalani paruh waktu. Ternyata, setelah menjalaninya Dewi merasa bisnis tiketnya sangat prospektif untuk dikembangkan.

Selain itu, faktor jenuh juga menjadi sebab Dewi memilih banting setir ke dunia bisnis. Baginya, empat tahun mengarungi zona nyaman kerja sudah cukup. Dewi butuh tantangan lebih dari sekadar menunggu gaji bulanan dan komisi tambahan. “Saya harus punya usaha sendiri untuk anak-anak saya,” tegasnya.

Wanita yang menghabiskan sejam sehari dengan berolahraga yoga ini memang begitu peduli dengan keluarga. Keputuasan Dewi keluar dari zona nyaman karier sebelumnya juga karena keinginannya membantu bisnis keluarga. Keluarga Dewi memiliki usaha terapi kesehatan dengan metode tusuk jari dan Dewi sendiri membantu dari sisi operasional serta keuangan.

Berpikir Prospektif

Wanita 31 tahun ini merasakan benar risiko atas keputusan mengakhiri pekerjaannya. Pendapatan hanya Rp 500 ribu per bulan dirasakannya pada awal merintis bisnis. Ini tak lain kala itu Dewi belum mempersiapkan secara khusus sarana dan prasana penunjang bisnis, ditambah pelanggan yang membeli tiket Dewi terbatas teman dan relasi semata.

Kondisi lambat laun mulai berubah ketika semua penunjuang bisnis telah dipenuhi Dewi. Hanya dengan modal 10 juta, Dewi kemudian menamai bisnis tiketnya Natika Tour & Travel, namun dua tahun berikutnya ia menggantinya dengan Sky Tour & Travel. Pergantian nama itu akibat dari masalah yang menimpa Dewi dengan mantan suaminya.

Meski begitu, usai pergantian nama itu bisnis Dewi makin berkembang, permintaan tiket dari perusahaan makin tinggi, tak terkecuali jasa tur wisata. “Untuk penjualan tiket, saya lebih menyasar perusahaan dengan jumlah banyak,” jelasnya. Rata-rata pembelian jarang transaksi langsung, lebih banyak lewat online dan pesan singkat lewat SMS maupun Blackberry Messenger.

Wanita berambut pendek ini kini mengandalkan produk jasa tur wisatanya untuk menggenjot keuntungan. Menurutnya, tur wisata dari segi keuntungan lebih besar ketimbang menjual tiket. Segmen yang disasar Dewi tak hanya satu kalangan, mulai dari menengah atas, kelas menengah, dan paket terjangkau. Paket tur wisata terjangkau yang dimaksud ialah backpacker, konsep wisata dengan biaya minimalis dan fleksibel dari segi waktu.

Bagi penghobi renang ini, justru backpacker memiliki banyak kelebihan terutama pada tantangan. Konsumen akan lebih mengenal tempat wisata yang mereka kunjungi sebab transportasi yang akan digunakan adalah tranportasi publik seperti kereta api, bus, dan sejenisnya. Berbeda dengan paket menengah atas, konsumen akan cenderung berisiko jenuh karena transportasi yang digunakan ialah kendaraan perusahaan travel. “Jarang kompetitor yang menawarkan paket backpacker karena mereka lebih berorientasi penjualan bukan menyesuaikan kebutuhan pelanggan,” kata Dewi.

Dewi memahami benar, delapan tahun terakhir bepergian dengan pesawat bukan lagi barang mewah. Maka dari itu, ke depan peluang bisnis tur wisata kian menarik. Apalagi harga jual tiket pesawat cenderung bersaing dengan harga tiket kereta api. “Termasuk gaya hidup masyarakat sekarang terhadap wisata makin meningkat, terlebih mendekati saat liburan,” ujarnya.

Rencananya, Dewi akan merambah bisnis baru lagi yakni jasa perjalanan umroh. Keberanian tersebut tak lepas dari dukungan keluarga, seperti ayah dan ibunya yang sesekali membantu memasarkan dan mencari pelanggan. Mengingat ayahnya memiliki cukup relasi yang bisa ditawari produk jasa miliki Dewi, begitu pun ibunya.

Relasi atau jaringan kerja bagi Dewi sangat berarti untuk keberlangsungan bisnisnya. Karena itu, ia memanfaatkan benar relasi yang pernah dimiliki semasa berkarier sebagai marketing staff. “Sebagai marketing staff, saya belajar banyak saat menjalani karier pertama saya itu,” tuturnya.

Peduli Keluarga

Kesibukan kerja yang mendera Dewi mengharuskannya harus pintar-pintar membagi waktu. Tak lain karena Dewi kini mengelola tiga bisnis sekaligus. Terkadang Dewi membawa serta anaknya untuk ikut serta mendampingi kliennya saat wisata agar bisa tetap memiliki kebersamaan dengan anaknya. “Sebagai ibu saya akui, waktu saya terbatas untuk anak. Tapi, selagi bersama anak-anak saya akan memanfaatkannya sebaik mungkin,” kata Dewi.

Pada prinsipnya menurut Dewi, wanita memiliki kelebihan ketika menjalani bisnis ketimbang pria. Terutama dalam hal keluwesan saat menghadapi pelanggan yang cukup berpengaruh terhadap nasib bisnis selanjutnya. Kekurangannya, wanita cenderung lambat saat mengambil keputusan dan faktor kesehatan terutama stres saat kerja. “Perempuan sekarang itu lebih kuat daripada dulu-dulu,” paparnya.

Dewi sangat percaya Tuhan pasti akan membantunya. Ia pun tak pernah menggantungkan nasibnya dengan satu orang karena bagi Dewi sifatnya itu tidak kekal. Karena itu, Dewi dalam merencanakan hidupnya selalu melakukannya secara mandiri, termasuk dalam bermimpi akan masa depan bisnis dan anak-anaknya. “Kerja itu ibadah. Jadi ketika sudah yakin memutuskan untuk memulai usaha sendiri, insyaallah ada jalannya,” jelasnya.

Dua buah hati yang selalu mendampingi Dewi menjadi semangat sekaligus alasannya melanjutkan mimpi-mimpinya. Menjadi ibu terbaik bagi anaknya adalah mimpi terbesarnya, jadi tak mengherankan ia begitu iri melihat para ibu rumah tangga lainnya.“Saya sangat respek dengan ibu rumah tangga yang bisa mengabdi 24 jam untuk anak dan suaminya,” pungkasnya.

Teks: Abdul Wachid

Foto: Anang Fauzi



Sponsors

GIIAS Medan Auto Show