Modal Nekat, Jadi Pionir Truk BBG Komersil

10 / 08 / 2015 - in CEO Interview
SAMSUNG DIGITAL CAMERA

PT Pelangi Nusantara Power 

Perjalanan membangun Pelangi Nusantara Power (PNP), berawal dari pengalaman salah satu pendiri menangani Taksi Zebra yang sudah menggunakan konversi bahan bakar compressed natural gas (CNG), bahan bakar alternatif selain bensin atau solar.

Sejak berdiri pada Mei 2011, perusahaan ingin terus mengembangkan diri, akhirnya memberanikan diri untuk membeli lima unit truk BBG dari Sinotruk merek Howo pada September 2011. Selain lima truk BBG, PNP juga memiliki dua unit truk diesel untuk mendukung transportasi bahan bakar gas. “Setelah koordinasi dengan direksi, kami sepakat untuk membeli Howo. Dengan modal nekat kami berani impor kendaraan besar. Saking nekatnya, unit sudah tiba di sini tetapi terganjal kendala surat izin jalan,” ujar Henry.

Pada suatu saat, mereka mendapat kunjungan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo dan melihat ada lima unit truk PNP yang parkir. Widjajono pun bertanya pada salah satu direksi, kenapa truk berbahan CNG ini bisa tidak beroperasi. Henry menjawab, “Truk kami sudah parkir selama dua bulan sejak datang dari Cina, sampai sekarang masih menunggu surat-surat kelengkapan untuk beroperasi.”

Tak lama setelah kunjungan berakhir, Wamen menghubungi pihak Dishub dan Samsat agar segera merampungkan surat kelengkapan. Keesokan harinya PNP langsung dihubungi untuk mengambil surat kelengkapan dan izin beroperasi. “Ternyata waktu selama itu pihak Dishub masih bingung mengenai pengurusan truk komersil berbahan bakar gas yang baru pertama kali ada di sini. Lucunya lagi, saat itu STNK masih tertuliskan bahan bakar solar pada truk kami,” kisahnya sambil tersenyum menjelaskan situasi yang bisa disebut titik balik PNP.

Alih Teknologi

Untuk pengoperasian awal, mereka tetap mendatangkan staf ahli dari Cina agar bisa mengajarkan dasar-dasar teknologi mesin berbahan gas tersebut kepada mekanik perusahaan selama dua minggu. Waktu yang singkat dimanfaatkan perusahaan untuk menimba ilmu dan transfer ilmu secepat yang mereka bisa. Awalnya, bahasa menjadi kendala karena beberapa program serta manual book masih dalam huruf kanji. Kendala itu segera terkikis seiring komunikasi yang terjalin antara karyawan dan staf ahli.

Tetapi, perjalanan PNP baru dimulai sejak staf ahli pulang ke negaranya dan truk tersebut aktif beroperasi di wilayah Surabaya. Perbedaan iklim dan kondisi jalan tentu membawa efek pada truk BBG, kerusakan ringan bisa terjadi sewaktu-waktu.”Pernah suatu saat, salah satu truk kami mogok di jalan. Sopir dan kernet bingung bagaimana mengatasi karena mereka juga pertama kali mengemudikan truk BBG. Setelah mendapat informasi tempat, kami berangkat bersama mekanik menuju lokasi, dalam perjalanan kami berpikir masalah apa yang terjadi di sana sampai truk mogok hingga empat jam,” tutur Muhammad Choliq, staf Marketing PNP.

Problem yang muncul sebenarnya bukan masalah serius tetapi karena perbedaan teknologi diesel dan truk BBG, penanganannya menjadi berbeda pula. PNP terus tumbuh dan belajar bagaimana perawatan dan perbaikan mesin truk BBG. Ungkapan try and error sepertinya pantas untuk menggambarkan perjalanan awal PNP.

PNP merupakan perusahaan transportir bahan bakar CNG milik PT Citra Nusantara Energi (CNE) yang memiliki stasiun penggisian bahan bakar di Margomulyo, Surabaya. CNE adalah trader gas untuk keperluan industri dan transportasi. Karena mereka tidak memiliki pipeline ke customer, gas ini membutuhkan alat pengangkutan, di situlah letak kerja sama PNP dan CNE.

Wilayah kerja PNP sudah tergambar jelas bahwa mereka tidak memasarkan gas, mereka mengangkut gas dan menjual sistem konversi bahan bahan bakar. Sebelum menggunakan CNG perusahaan masih memakai LPG untuk bahan bakarnya, sedangkan LPG yang digunakan harus yang bernon-subsidi. Di sinilah letak pentingnya konversi ke bahan bakar CNG. Dengan satuan liter setara premium yang lebih murah daripada BBM dan LPG, perusahaan bisa menghemat biaya perawatan.

PNP juga pernah melakukan uji coba unit bekerja sama dengan Terminal Petikemas Surabaya selama lima hari nonstop menggeber truk BBG selama 24 jam untuk membuktikan performa Howo, yang tidak kalah dengan truk diesel. TPS terpukau dengan kinerja truk BBG karena arus peti kemas yang padat menutut performa truk dalam kondisi prima.

Berpengalaman di konversi BBG khususnya taksi, spesifikasi mesin truk BBG tidak jauh berbeda sehingga perawatan mesin dan problem selama kurun waktu tertentu PNP sudah paham. Seperti mana saja spare part yang harus diganti secara rutin atau kerusakan ringan yang biasa muncul. Pihak produsen pun cukup menjaga hubungan baik dengan klien, mereka memberi after sales service yang memuaskan.

“Mereka mendukung segala keperluan unit kami. Jika pihak Singapura tidak bisa membatu, mereka langsung kontak kantor pusat di Cina. Pernah dulu kami perlu satu program untuk maintenance. Setelah kami hubungi kantor pusat, program langsung dikirim tanpa perlu meminta konfirmasi pembayaran. Saya bingung, tapi biarlah itu urusan nanti. Begitu teknisi perusahaan sudah menguasai program yang dipandu langsung dari Cina dan program berjalan sebagaimana mestinya, saya menanyakan berapa biaya yang harus saya bayar, mereka menjawab it’s free for you,” cerita Choliq tentang service Sino Truck.

Choliq menambahkan, truk BBG aman dari bahaya terbakar saat terjadi kebakaran. Karena menggunakan bahan bakar gas, dalam sistem penyimpanan tabung ada safety valve, semacam instalasi pipa otomatis yang langsung membuang seluruh gas alam saat terjadi benturan keras. “Karena gas alam berat jenisnya lebih ringan daripada udara, begitu terlepas ke udara, CNG langsung menguap. Jika terjadi kecelakaan tidak akan ada bahan bakar yang akan meledak seperti yang ditemukan pada kendaraan bensin atau solar. Kita tahu kedua bahan bakar tersebut sangat peka terhadap percikan api,” tambah pria berkacama mata persegi ini.

Seiring waktu, pengalaman dengan truk BBG menjadikan PNP memperluas layanan perusahaan. Jika dulu hanya mengandalkan jasa transportasi, mereka menambah satu divisi jasa konversi. Konversi kendaraan berbahan minyak dan forklift ke bahan bakar gas. Pemilihan jasa konversi ini bukan tanpa dasar tetapi karena dedikasi PNP untuk mendukung upaya pemerintah dalam pemanfaatan gas alam sebagai sumber daya alternatif. Klien pertama dan masih terus sampai sekarang adalah PT Coca Cola Indonesia. Total sampai saat ini ada 20 unit forklift milik Coca Cola Indonesia yang mennggunakan converter kit milik PNP.

Harapan PNP sebagai salah satu pendukung pemanfaatan energi alternatif terhadap pemerintah adalah keringanan biaya impor truk BBG, pajak kendaraan impor, surat-surat izin dipermudah karena truk BBG tidak menggunakan BBM subsidi. Dengan dukungan pemerintah seperti ini, akan membantu percepatan konversi BBM ke BBG yang merupakan salah satu program pemerintah juga.

Teks: Sigit Andriyono



Sponsors

GIIAS Medan Auto Show