Solusi Atasi Kemacetan Versi SCI

11 / 07 / 2016 - in Berita

Kemacetan parah pada masa angkutan lebaran tahun ini sungguh memprihatinkan semua pihak, bahkan belasan nyawa pemudik juga dikorbankan akibat terjebak kemacetan akut berjam-jam di jalur Tol Brebes Timur, Jawa Tengah beberapa hari lalu.

Menurut Setijadi, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), kemacetan yang terjadi selama arus mudik Lebaran dipicu lantaran ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan transportasi di simpul-simpul transportasi. Yaitu gerbang tol (GT) dan rest area (untuk jalur tol), serta persimpangan jalan, SPBU, dan pasar (untuk jalan non-tol). Pasokan berupa kapasitas semua elemen dalam rantai pasok transportasi tidak mampu mengimbangi kebutuhan, baik elemen utama (jalan tol, pelayanan pintu tol, jalan non-tol, persimpangan, dsb.) maupun pendukung (misalnya SPBU).

SCI melihat, pembangunan jalan di Pulau Jawa lebih terfokus di jalur utara (Pantura) yang mengakibatkan volume kendaraan yang melonjak tajam pada masa libur Idul Fitri menumpuk pada titik-titik tertentu di jalur tersebut. Pasalnya sebagian besar pemudik, menurut Setijadi, masih banyak yang mengandalkan kendaraan pribadi karena transportasi umum dianggap masih kurang memadai dan pengembangan sistem transportasi lebih terfokus pada moda transportasi jalan. Sementara jalur-jalur alternatif belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemudik, lantaran kurangnya persiapan dari dinas terkait dan kurangnya informasi kepada para pemudik.

Dalam hal ini pemerintah melalui kementerian terkait telah berupaya untuk memperlancar atau mengatasi kemacetan secara parsial, namun upaya ini juga berpotensi mengakibatkan kemacetan yang bisa lebih parah di titik lainnya. Seperti kemacetan dari GT Cikampek dan GT Palikanci yang berpindah dan terakumulasi ke GT Brebes Timur sekarang ini.

Setijadi menegaskan, kapasitas jalur transportasi harus terjaga dan tidak boleh terganggu di sepanjang jalur transportasi sesuai dengan volume kendaraan yang melewati. Sebagai contoh, walaupun kapasitas semua jalur tol dan jalan arteri memadai, hambatan di salah satu persimpangan atau SPBU dapat mengakibatkan kemacetan luar biasa. SCI berpendapat perlu dilakukan perbaikan untuk tahun-tahun selanjutnya dengan menerapkan supply chain management (SCM) untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan transportasi.

Setijadi berpendapat, penyeimbangan harus dilakukan sepanjang jalur transportasi (end-to-end) secara terintegrasi. “Diperlukan pemetaan jalur transportasi dan traffic flow & bottleneck analysis, termasuk prediksi volume kendaraan pada setiap jalur transportasi, baik pada jalur utama maupun jalur alternatif,” jelasnya.

Sebagai solusi mengatasi horor kemacetan ini, menurut Setijadi diperlukan perencanaan dan pengendalian sistem transportasi terintegrasi oleh pihak-pihak terkait (Kemenhub, dishub dan instansi pemda terkait, Polri, Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), operator jalan tol, operator semua moda transportasi, Pertamina dan pengelola SPBU, dan lain-lain).

SCI merekomendasikan beberapa langkah perbaikan pada sistem transportasi di Indonesia, termasuk pada masa libur Idul Fitri. Melalui pengembangan transportasi umum berbasis multimoda secara terintegrasi, termasuk peningkatan kapasitas kereta api dan transportasi laut untuk pengangkutan penumpang dan kendaraan berpenumpang (mobil dan motor).

Langkah berikutnya juga dibutuhkan pemberdayaan Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang bertugas melakukan koordinasi antar instansi penyelenggara, yang memerlukan keterpaduan dalam merencanakan dan menyelesaikan masalah Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (sesuai UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan). “Restrukturisasi pengelolaan transportasi, termasuk pengalihan BPJT dari Kemen PUPR menjadi di bawah Kemenhub,” sebut Setijadi.

SCI juga berharap agar pemerintah segera merealisasikan percepatan penyelesaian pembangunan jalan tol Trans Jawa dan Jalur Jalan Lintas Selatan Pulau Jawa. Termasuk melakukan revitalisasi jalan non-tol (jalan nasional, provinsi, dan kabupaten/kota) dengan mengurangi potensi kemacetan akibat persimpangan jalan, perlintasan sebidang dengan kereta api, dan dampak kegiatan masyarakat (misalnya pasar).

Selain itu, SCI menyarankan agar dilakukan perbaikan dalam pengelolaan jalan tol, termasuk percepatan transaksi di gardu tol dengan transaksi non-tunai dan aplikasi teknologi lainnya. Dipadukan dengan pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara terpadu, termasuk mengenai kondisi lalu lintas dan jalur-jalur alternatif. Serta melakukan langkah antisipasi pencegahan kemacetan akibat antrean di SPBU, termasuk dengan penyebaran penjualan BBM non-subsidi dalam kemasan, misalnya di outlet-outlet minimarket.

 

Editor: Antonius S
Foto: Pebri S



Sponsors

 

logo-chinatrucks300 327pix