Pengusaha Truk Sesalkan Pembatasan Impor Ban TBR

31 / 03 / 2017 - in Berita

Pemerintah telah menerbitkan regulasi baru seputar impor ban dari luar Indonesia melalui Peraturan Menteri Perdagangan RI No.77/M-DAG/PER/11/2016 tentang Ketentuan Impor Ban yang berlaku mulai 1 Januari 2017. Kebijakan ini pun akhirnya menuai protes dari kalangan pengusaha truk Tanah Air yang sudah akrab menggunakan karet bundar dengan konstruksi steel belted ini.

Menurut Bambang Widjanarko, kebijakan pembatasan impor ban radial untuk truk dan bus ini tujuannya memang baik demi menyelamatkan industri ban dalam negeri. “Mungkin banyak kalangan awam yang belum mengerti bahwa ban TBR (Truck and Bus Radial tyre) belum bisa diproduksi di dalam negeri. Karena untuk memproduksi ban TBR ini diperlukan riset yang tidak pendek waktunya, dan mungkin kalau kita mau serius untuk meriset perlu waktu sekitar 3 tahun dan itu juga perlu biaya. Pertanyaan berikutnya, mampukah pabrik ban lokal itu menjual (bukan memproduksi) satu hari 1.000 ban? Kalau tidak mampu, BEP (Break Even Point) nya lama sekali bahkan mungkin bisa bangkrut sama sekali karena investasinya cukup besar,” jelas Independent TBR Tire Analyst ini.

Bambang mengatakan, jika pembatasan ini terus diberlakukan maka volume ban impor yang masuk ke Indonesia semakin seret lantaran koordinasi antar kementerian terkait terlalu bertele-tele. “Kondisinya yang terjadi Kementerian Perindustrian mengeluarkan rekomendasi dan harus berdasarkan rekomendasi itu baru kita bisa impor. Kemudian rekomendasi itu di ACC oleh Kementerian Perdagangan, kemudian baru kita cari surveyor yang ditunjuk untuk mensurvei di country of origin supaya dapat mengetahui barang itu dari mana asalnya untuk dikirim ke Indonesia. Hal ini sebenarnya sangat bagus, karena permainan under value sudah tidak bisa terjadi lagi. Kalau dulu mungkin masih bisa, ban truk masuk ke Indonesia dengan value ban sedan sehingga biaya masuknya lebih kecil dan itu merugikan negara,” urainya.

Imbasnya, menurut Bambang, jika ada demand-nya tapi tidak ada supply dan pengguna harus kembali lagi ke teknologi yang lebih kuno dengan menggunakan ban tipe BIAS sementara pengguna sudah terbiasa menghitung rupiah/kilometer ban radial yang jauh lebih rendah dibanding pemakaian ban nilon atau BIAS, jelas ini akan membebani pengusaha angkutan truk pengguna ban radial.

Di pasar domestik memang harga jual ban BIAS terpaut sekitar 10-15% lebih rendah dibanding ban radial. “Tapi kemampuan jarak tempuh ban radial minimal 2 kali lipat dari ban BIAS. Beberapa negara sudah meninggalkan teknologi ban BIAS ini. Ban radial truk sendiri ada yang pakai ban dalam dan ada yang sudah tidak menggunakan ban dalam atau tubeless. Tipe tubeless memiliki friksi panas lebih sedikit sehingga jarak tempuhnya otomatis lebih panjang karena ban lebih dingin,” kata Bambang.

Dari sisi operasional jelas lebih menguntungkan menggunakan ban radial. Karena rasio rupiah/kilometer ban radial jauh lebih rendah dibanding pemakaian ban nilon atau BIAS. “Cara berhitungnya, harga beli ban radial yang terpaut sekitar 10-15% dibagi dengan jarak tempuhnya ban radial yang minimal 2 kali lipat dari ban BIAS, itu jelas lebih menguntungkan pakai ban radial. Sedangkan produksi ban di dalam negeri belum bisa membuat TBR meski sudah bisa membuat ban LTR (Light Truck Radial tyre) walaupun masih dalam taraf uji coba dan jumlahnya belum banyak,” tambah Bambang.

Screenshot (217)

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosisasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman menyesalkan kebijakan pembatasan impor ban TBR ini.

“Mengenai pembatasan ban radial impor ini yang dirugikan adalah kita dari pihak pengusaha truk. Teknologi-teknologi ban yang dipakai saat ini di Indonesia sarat overload karena overload menjadi major issue selama ini. Memang dengan kondisi jalan Indonesia yang kurang sempurna, jadi kalau menghadapi benturan ban BIAS lebih cocok untuk kondisi overload. Tapi kalau kita berpikir jangka panjang, sudah tidak zamannya lagi bersaing di overload. Tapi dengan pakai ban radial ini daya tempuhnya jadi lebih jauh sehingga cost rupiah/kilometernya juga akan lebih rendah. Dengan pemberlakuan pembatasan ban radial truk impor ini akhirnya berimbas kita mengalami kenaikan cost angkutan,” ungkap Kyatmaja.

Kyatmaja menegaskan, saat ini hampir semua merek ban impor harganya akan naik 10-30% karena adanya bahan baku yang naik, adanya biaya surveyor, serta demand di dalam negeri yang lebih banyak dari supply. “Padahal kita juga dituntut oleh pemerintah untuk bisa menurunkan biaya logistik yang saat ini masih di angka 26%. Sedangkan komponen kedua terbesar setelah BBM ini naik 30%, imbasnya pasti ke harga angkutan kita nantiya. Kalau cost angkutan kita naik, lama kelamaan harga barang juga ikut naik dan ujung-ujungnya konsumen juga yang bayar karena harga barang semua naik,” beber pria yang juga Managing Director PT Lookman Djaja ini.

Ketika ban radial truk menjadi langka, lanjut Kyatmaja, akhirnya pengguna terpaksa pakai ban BIAS. “Ban BIAS kira-kira kemampuan jarak tempuhnya 30 ribu km, kalau ban radial (tube type) dua kali lipatnya sedangkan tipe tubeless bisa dua kali lipat lebih. Berarti kita yang dulunya beli per 60 ribu km, sekarang per 60 ribu km harus beli dua ban,” keluhnya.

Kyatmaja berharap, ketika pemerintah mau menerapkan sebuah kebijakan jangan hanya menguntungkan pihak produsen saja, tapi idealnya juga mengajak konsumen pengguna ban itu sendiri. “Coba dikaji lebih komprehensif lagi, jangan karena atas dasar tertentu tapi tidak memperhatikan dampak-dampaknya ke yang lain,” ujarnya.

 

Editor: Antonius
Foto: Istimewa

 

 

 

 

 



Sponsors

logo-chinatrucks300 327pix