Respon Strategi Supply Chain dan Logistik di Era Kenormalan Baru

28 / 07 / 2020 - in Kontributor Ahli

Pandemik Covid-19 telah memengaruhi semua ekosistem kehidupan dan ekonomi. Tidak hanya kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Pandemik ini berimbas pada kemandekan ekonomi. Kita dipaksa memaknai ulang sesuatu yang telah menjadi kebiasaan atau normal. Kita memasuki era kenormalan baru (new normal)

Seberapa lama Pandemik Covid-19 ini? Tergantung pada efektivitas pengendaliannya. Berbagai skenario pengendalian penyebaran Covid-19 dan perkiraan puncak siklus telah banyak diprediksi. Salah satunya, prediksi Budi Sulistiyo et al yang telah merilis laporan Pemodelan Multiskenario dan Rekomendasi Strategi Pengendalian Penyebaran Covid-19 di Indonesia (2020) menyebutkan bila
skenario physical distancing diterapkan cukup moderat, maka perkiraan akhir siklus akan berakhir 13 November 2020 dengan perkiraan akumulasi kasus terkonfimasi positif Covid-19 sebanyak 43.130 kasus.

Sebaliknya, bila skenario physical distancing diterapkan longgar, diperkirakan akhri siklus baru berakhir 18 Maret 2021. Dampaknya, akumulasi kasus yang terkonfirmasi menjadi 1.892.000 kasus, dengan perkiraan puncak siklus terjadi pada 12 Juli 2020 dengan puncak kasus harian mencapai 14.720.

Mencermati berbagai skenario dan perkiraan penyebaran Covid-19 ini, isu penting yang perlu menjadi perhatian kita adalah Bagaimana kita merespon dan melakukan pemulihan. Bagi para pengusaha dan pemimpin bisnis, bagaimana melindungi keselamatan pekerja? Bagaimana tetap menjaga operasional dan menyediakan layanan kepada pelanggan? Dan bagaimana tetap menjaga keberlangsungan (going concern) perusahaan?

Bagaimana pengaruh Pandemik Covid-19 terhadap sektor usaha? Dampaknya luar biasa. Pada kondisi sebelum Covid-19 ditemukan, semua sektor usaha berjalan normal. Penjualan meningkat seiring dengan peningkatan pelanggan, baik pelanggan lama maupun penambahan pelanggan baru. Selain itu, umumnya, peningkatan penjualan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pasar. Semua berlangsung normal. Peningkatan penjualan mendorong peningkatan produksi atau pembelian barang. Peningkatan produksi menciptakan kegiatan pekerja untuk mengoperasionalkan sektor usaha, baik industrii, pertanian, perdagangan, keuangan, dan semua sektor yang mendukukung kegiatan usaha.

Kegiatan usaha dan ekonomi yang normal mulai terguncang sejak Covid-19 ditemukan, menyebar, dan menjadi Pandemik. Sektor usaha pun menurun tajam seiring semakin ketatnya pengendalian penyebaran Covid-19, baik dalam skala rumah tangga, usaha, daerah, nasional sampai global. Para pengusaha dan pemimpin bisnis menghadapi dan menjalankan protokol survival, bertahan untuk tetap hidup.

Masa pandemik dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mendorong banyak pengusaha untuk melakukan pemulihan dan lolos dari survival, meski kondisi belum normal. Kondisi ketidaknormalan ini akan menjadi normal baru (new normal), dengan perubahan model bisnis baru yang kini telah biasa mereka jalankan selama survival di masa Pandemik Covid-19. Para pengusaha pun mengembangkan berbagai strategi pemulihan dan penyiapan untuk tetap tumbuh pada masa post Covid-19. Masa di mana kondisi “normal pada ketidaknormalan” atau next normal.

Pandemik Covid-19 men-disrupsi banyak sektor usaha (BI, Doode dalam Liputan 6, 2020). Banyak sektor usaha yang tertekan atau sulit bertahan dari disrupsi Covid-19

ini, contohnya sektor usaha penerbangan, restoran, hotel, konstruksi, industri pengolahan, pertambangan, energi khususnya bahan bakar, ekspor komoditi tambang, dan lain-lain. Sektor usaha ini mengalami penurunan permintaan yang sangat tajam.

Sektor usaha yang masih bisa bertahan pada masa Pandemik Covid-19 ini, misalnya sektor kehutanan, perikanan, listrik, gas, air bersih, pengangkutan barang, pertanian, perkebunan, dan peternakan. Pada sektor usaha ini umumnya masih bisa bertahan, mengingat permintaan akan jasa dan produk dari sektor ini masih normal.

Di sisi lain, Pandemik Covid-19 ini membuka peluang dan peningkatan permintaan di sektor usaha seperti makanan, kesehatan, teknologi informasi dan komunkasi, produk kesehatan pribadi, dan sektor retail. Umumnya, sektor usaha ini mengalami peningkatan selama masa Pandemik Covid-19. Hal ini didorong oleh gerakan #Stay at Home, gerakan tetap tinggal di rumah selama PSBB. Stay at home mengubah perilaku pembelian konsumen sektor rumah tangga dan perkantoran dengan cara:
• belanja bahan makanan (groceries),
• pesan jasa antar makanan,
• bekerja dari rumah, yang memerlukan kebutuhan layanan internet dan layanan streaming,
• layanan TV berbayar,
• pembelajaran online,
• jasa penyimpanan data,
• layanan farmasi online,
• layanan kebersihan,
• fitness dari rumah.

Stay at home memerlukan solusi layanan e-commerce dan logistik untuk memenuhi order dan pengantaran order sampai ke rumah.

Bagaimana sebaiknya respon para pengusaha dalam menghadapi kondisi tidak normal selama masa Pandemik Covid-19? Segera menyadari kondisi tidak normal dan dampak perubahannya. Tindakan refleks sangat diperlukan untuk segera melakukan perubahan agar bisa tetap bertahan pada kondisi paling sulit. Kemudian, segera melakukan pemulihan dan mengembangkan strategi untuk transformasi model bisnis pada situasi new normal, baik selama masa Pandemik maupun setelah Pandemik.

Bertahan
Pada situasi Pandemik Covid-19, kemampuan bertahan (survival) sangatlah penting. Dalam kemampuan bertahan, perlu ketersediaan kas yang mencukupi. Perusahaan perlu segera menyiapkan revisi anggaran. Berbagai skenario disimulasikan untuk penyusunan revisi anggaran. Skenario yang didasarkan pada asumsi berapa lama Pandemik Covid-19 berakhir, misalnya 3 bulan, 6 bulan, sampai 10 bulan.

Pada saat penyusunan revisi anggaran, perlu dilakukan stress test sesuai dengan skenario atau asumsi yang dibangun. Berangkat dari proyeksi pendapatan, selanjutnya kita menghitung beban pokok penjualan, laba bruto, biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum, pendapatan/biaya lan-lain, laba operasi, biaya bunga, dan laba bersih.

Pendapatan perusahaan kemungkinan besar diperkirakan menurun pada masa Pandemik Covid-19. Seberapa besar penurunannya tergantung pada bisnis, produk, pemasok, perlilaku konsumen, dan tingkat permintaan pelanggan/pasar.

Selanjutnya, dari proyeksi pendapatan bulanan, kita kembangkan penghitungan proyeksi penerimana kas bulanan. Penerimaan kas ini dihitung berdasarkan perkiraan

kas yang diperoleh dari pelanggan sesuai term of payment. Pada masa Covid-19, kemampuan perusahaan dalam mendapatkan penerimaan kas dari pelanggan sangat penting untuk bisa bertahan. Karenanya, perusahaan perlu mengintensifkan penagihan piutang ke pelanggan.

Selain mempercepat penagihan piutang, untuk menjaga ketersediaan kas yang mencukupi, di masa Covid-19 pengendalian biaya dengan cara memangkas biaya-biaya yang tidak perlu (unnecessary expenses) dan memprioritaskan pengeluaran kas untuk biaya-biaya yang memang perlu (necessary expenses). Negosiasi dengan kreditor, baik pemasok maupun bank, dilakukan untuk pengaturan pembayaran utang perusahaan.

Praktik-praktik terbaik
Pada masa Covid-19, perusahaan harus mencari peluang bisnis atau pendapatan baru, untuk tetap menjaga kinerja keuangan perusahaan. Beberapa bisnis atau produk atua layanan menurun tajam pada masa Covid-19. Perlu revenue stream baru untuk menggantikan produk atau layanan yang menurun.

Para pemimpin bisnis perlu mengembangkan inovasi, mulai dari value innovation, product atau service innovation, channel innovation, dan supply chain innovation.

Value innovation dilakukan misalnya dengan cara meluncurkan product bundling untuk mendorong pembelian produk oleh konsumen. Contoh praktik terbaik value innovation pada masa Covid-19 dapat kita lihat beberapa brand produk menawarkan paket produk yang berisi berbagai varian produk dengan menambahkan masker dan hand sanitizer. Selain itu, munculnya produk kopi dalam kemasan seliter untuk pembeli yang tetap tinggal di rumah pada masa Covid-19.

 

Kegesitan dalam melakukan survival innovation sangat penting pada saat krisis, dengan cara melakukan product bundling yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Praktik terbaik product atau service innovation yang dilakukan museum. Pada masa Covid-19, para pengelola museum dan pameran sangat terdampak, karena experience konsumen tercipta pada saat mereka berinteraksi secara fisik. Pada saat Covid-19, experience seperti itu tidak bisa terjadi. Para pengelolaan museum dan pameran harus melakukan inovasi produk atau layanan agar penerimaan kas tetap ada. Caranya, seperti yang dilakukan Museum Macan di Jakarta dan Museum of Modern Art di New York melakukan inovasi dengan menjual souvenir, buku gambar, permainan anak-anak, sampai pensil warna di online store mereka untuk mendatangkan revenue stream baru.

Survival innovation dengan memberikan layanan baru ini merupakan praktik terbaik untuk tetap menghasilkan revenue manakala operasi bisnis normal tidak dapat dijalankan.

Pada masa Covid-19 banyak kota yang menerapkan PSBB. Akibatnya, saluran distribusi banyak yang tidak beroperasi. Perusahaan perlu mengambil langkah kreatif dengan cara mengembangkan inovasi saluran pemasaran dan distribusi seperti grocery online dan book delivery.

Covid-19 mendorong konsumen melakukan belanja online ke produk kebutuhan produk esensial sehari-hari seperti groceries. Biasanya, mereka belanja online hanya untuk produk-produk non-esensial seperti pakaian, sepatu, elektronik konsumer, dan pemesanan hotel/pesawat.

Para peritel konvensional melihat kebiasan baru konsumen dalam belanja online ini sebagai peluang untuk mengembangkan online store yang dikelola sendiri.

Contoh praktik terbaik yang dilakukan Transmart, Yogya, dan Lotte dalam mengembangkan online store melalui website yang dikelola sendiri. Konsumen dapat membeli produk groceries apa pun yang biasa tersedia di rak-rak toko mereka dan diantar langsung ke rumah masing-masing.

Covid-19 mendorong peritel konvesional melakukan digitalisasi layanan belanja konsumen dan layanan home delivery.

Covid-19 juga mendorong produsen/prinsipal untuk mengembankan model saluran distribusi “direct-to-customer” (DTC). Para produsen ini memotong mata rantai distribusi mereka dengan menyediakan layanan home delivery untuk produk-produk yang diproduksi. Mereka tidak lagi menggunakan saluran distribusi konvensional seperti distributor dan toko pengecer.

Brand ABC misalnya, pada masa Covid-19 mengembangkan inovasi saluran distribusi dengan melakukan pengantaran semua produk makanannya ke rumah konsumen.

Dengan membangun online presence dan memanfaatkan jaringan logistiknya, para produsen consumer goods dapat menghadirkan layanan antaran produk ke rumah.

Layanan home delivery juga dilakukan beberapa toko buku seperti Gramedia dan Big Bad Wolf untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam membaca buku selama melakukan #DiRumahAja. Gramedia mengembangkan penjualan ebook. Selain itu, Gramedia menyediakan layanan book delivery untuk mengantar pembelian buku ke rumah konsumen.

Covid-19 juga mengajarkan inovasi supply chain. Ketika permintaan online grocery meningkat tajam selama konsumen melakukan isolasi mandiri, maka banyak peritel online mengalami hambatan supply chain. Umumnya, mereka mengalami masalah ketika harus mengirimkan barang melalui gudang pusat distribusi dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Banyak peritel melakukan inovasi supply chain dengan mengembangkan hub channel untuk pengiriman barang. Mereka memanfaatkan gerai-gerai mereka untuk mengirim produk ke konsumen.

Contoh inovasi supply chain selama masa Covid-19, Woolworths, gerai ritel asal Australia memanfaatkan gerai-gerai mereka yang tersebar menjadi hub channel untuk mengirimkan basic box yang berisi groceries dan bahan pokok makanan ke konsumen. Layanan yang mereka kembangkan ini diberi nama “Woolworths Basic Box”. Dengan inovasi ini, Woolwoorths tidak perlu mengirim barang melalui gudang pusat distribusi. Alhasil, waktu tempuh pun menjadi lebih cepat.

Kondisi Covid-19 telah memaksa peritel untuk melakukan channel innovation agar dapat memecahkan permasalahan kritis distribusi.

Kita masih banyak menyebutkan contoh-contoh praktik terbaik para produsen dan pengusaha dalam melakukan inovasi produk, layanan, saluran distribusi, dan supply chain. Kondisi Covid-19 memaksa mereka untuk melakukan inovasi agar mereka tetap menghasilkan revenue dan penerimaan kas pada masa darurat Covid-19.

Respon strategi
Selama masa Covid-19, pasokan material terganggu. Akibatnya, banyak manufaktur dan perusahaan dagang mengalami kekurangan stok.

Pada masa Covid-19, permintaan produk-produk penting seperti susu, sayuran, dan buah yang dikirim ke rumah meningkat tajam. Di sisi lain, tuntutan kecepatan pengantaran dengan tetap mempertahankan biaya pengiriman rendah, karena daya beli pelanggan terus menurun.

Sementara, prosedur dan standar keselamatan yang harus diterapkan perusahaan penyedia jasa logistik selama masa Covid-19 menimbulkan peningkatan biaya, seperti biaya pemakaian masker, pembersih tangan, dan sarung tangan untuk pekerja logistik, serta pengemasan ekstra dan sterilisasi.

 

Bagaimana respon strategi supply chain dan logistik di era kenormalan baru? Pertama, identifikasi risiko pasokan material, tentukan material mana yang kritikal, asal sumber pasokan, alternatif lain.
Kedua, estimasi ketersediaan stok di sepanjang value chain untuk kelancaran operasional dan kemampuan untuk men-deliver produk ke pelanggan. Ketiga, asses permintaan realistis dari pelanggan – antisipasi shortage demand. Keempat, optimalkan kapasitas produksi dan distribusi – APD dan WfH. Kelima, identifikasi dan pilih sistem logistik – distribusi dan transportasi yang paling aman. Keenam, kelola kas – isu likuiditas dan financial distress.

Selain itu, perusahaan dan organisasi perlu melakukan digitilisasi bisnis untuk tetap relevan di era kenormalan baru. Berdasarkan laporan Google, lebih dari 90 persen pengguna menggunakan lebih dari 1 perangkat seperti smartphone, PC, tablet, dan lain-lain. Perusahaan yang ingin meningkatkan pemasaran tentunya harus menggunakan pemasaran yang terintegrasi dan menjangkau berbagai banyak perangkat. Taktik ini disebut omnichannel marketing. Omnichannel marketing memungkinkan pengguna berinteraksi dengan perusahaan melalui platform apapun.

Belajar dari Corona
Banyak pembelajaran yang bisa diperoleh dari Pandemik Covid-19 ini, antara lain:
1. Supply chain risk. Organisasi dan perusahaan perlu menyiapkan dan menjalankan protokol risiko rantai pasokan. SCRM (Supply Chain Risk Management) memberikan panduan dalam pengelolaan risiko rantai pasokan. Ada tiga elemen penting dalam pengelolaan risiko menggunakan SCRM:
• Mengidentifikasi risiko rantai pasokan;
• Analisis risiko;
• Merancang respon risiko.

Langkah pertama dalam pengelolaan risiko adalah mengidentifikasi risiko rantai pasokan. Inti dari pengelolaan risiko sejatinya adalah identifikasi risiko. Karenanya, para manajer perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai identifikasi risiko dan penyebab utama terjadinya risiko. Klasifikasi jenis risiko rantai pasokan didasarkan pada pengaruh risiko terhadap tiga komponen penting dalam aliran rantai pasokan, yaitu: material, uang, dan informasi.

Para manajer rantai pasokan perlu memahami prosedur identifikasi risiko rantai pasokan. Beberapa teknik untuk mengidentifikasi risiko rantai pasokan dari catatan peristiwa masa lalu yang berdampak pada risiko dapat digunakan seperti: causes-and-effect diagrams, Pareto analysis, process charts, dan process control.

Metode pengumpulan data dan informasi mengenai risiko, penyebab terjadinya risiko, dan dampak risiko terhadap kinerja rantai pasokan menggunakan: wawancara, focus group discussion, dan metode Delphi.

Setelah potensi risiko rantai pasokan berhasil diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah analisis risiko. Risiko yang telah diidentifikasi perlu dianalisis. Analisis risiko ini mencakup aktivitas:
• Mengukur risiko;
• Menentukan tingkat probabilitas peristiwa risiko;
• Menentukan konsekuensi risiko.

Risiko perlu diukur dengan baik. Ada dua pendekatan dalam mengukur risiko. Kualitatif dan kuantitatif. Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi. Pendekatan kualitatif diperlukan untuk memberikan “kedalaman analisis” dalam mendeskripsikan risiko, penyebab risiko, peluang terjadinya peristiwa, dan konsekuensi risiko terhadap kinerja rantai pasokan.

Ada beberapa teknik pengukuran risiko dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Namun, inti dari pengukuran risiko secara kuantitatif adalah: (1) penghitungan tingkat probabilitas terjadinya peristiwa, dan (2) implikasi peristiwa terhadap risiko rantai pasokan.
2. Humanitarian logistics. Pandemik Covid-19 mengajarkan pentingnya logistik penanggulangan bencana, khususnya bencana Pandemik. Bencana wabah virus Corona perlu segera ditanggulangi. Sistem operasi logistik penanggulangan bencana wabah virus perlu dijalankan secara efektif untuk mengurangi dan meminimalkan korban, serta untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat pascabencana. Indonesia, dapat dikatakan, sebagai negara yang rawan bencana.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan tidak kurang dari 3.721 bencana nasional telah terjadi selama tahun 2019. Kemunculan bencana yang sering kali tidak terduga membuat upaya penanggulangannya harus direncanakan dan dikelola dengan baik agar dapat meminimalkan korban. Di sinilah logistik kemanusiaan memainkan peran penting.

Pemerintah, dalam hal ini melalui BNPB dan lembaga kesehatan harus dipersiapkan untuk mengendalikan wabah epidemi. Ini berarti bahwa mereka harus memiliki rencana kontingensi dan protokol sistem logistik yang baik untuk mengatasi masalah-masalah seperti ketersediaan stok medis darurat, personel yang terlatih, distribusi stok medis dan APD (alat pelindung diri) yang tepat, serta ketersediaan berbagai jenis kendaraan untuk pengangkutan pasokan medis dan komoditas yang diperlukan dalam penanggulangan bencana wabah virus.

3. Halal logistics. Pandemik Covid-19 memberikan pelajaran penting untuk mengelola rantai pasokan makanan (food supply chain) untuk memastikan produk halal, bersih, sehat, dan berkualitas. Dalam konteks ini diperlukan sistem logistik halal. Logistik halal akan menjamin proses logistik produk (makanan, kosmetik, dan produk farmasi) akan tetap halal dan thoyyib atau baik. Logistik halal sebagai proses mengelola pengadaan, pergerakan, penyimpanan dan penanganan bahan, bagian ternak dan produk jadi atau produk dalam proses, baik makanan dan non-makanan, dan pengelolaan informasi & dokumentasi terkait melalui organisasi dan rantai pasokan sesuai dengan standar umum prinsip-prinsip Hukum Syariah. Sistem logistik halal harus menjamin bahwa produk-produk tetap terjamin kehalalannya selama proses kegiatan logistik, baik di gudang, depo, terminal, alat angkut, dan pengemasan.

Logistik halal merupakan proses mengelola pengadaan, pergerakan, penyimpanan, dan penanganan material, ternak, dan persediaan barang setengah jadi baik makanan dan bukan makanan bersama dengan informasi terkait dan aliran dokumentasi melalui organisasi perusahaan dan rantai pasok yang patuh terhadap

prinsip-prinsip umum syariah (Malaysia Institute of Transport). Tieman, Vorst, dan Ghazali (2012) menjelaskan prinsip-prinsip dalam logistik halal bahwa produk halal dipisahkan dari produk non-halal untuk:
▪ Menghindarkan kontaminasi.
▪ Menghindarkan kesalahan.
▪ Menjamin konsistensi dengan syariah dan harapan pelanggan Muslim.

Dalam konteks sistem manajemen rantai pasok, proses produk halal mencakup kegiatan: produksi, pengolahan dan pengemasan, penyimpanan, dan peritelan produk sampai ke pelanggan.

***
Pandemik Corona memang membuat roda perputaran sosial dan ekonomi terhenti. Respon strategi perlu dilakukan pada era kenormalan baru. Pandemik Corona juga mengajarkan banyak hal di aspek kehidupan umat manusia. Kebiasan lama mulai ditinggalkan. Kebiasaan baru mulai dijalankan. Para pemipin organisasi dan perusahaan mulai memaknai ulang bagaimana cara menjalankan bisnis. Tidak terkecuali pengelolaan supply chain dan logistik. Pandemik Corona juga mengajarkan pentingnya perhatian dan pengelolaan yang lebih baik pada manajemen risiko supply chain, logistik kemanusian, dan logistik halal.

Oleh

Zaroni

Head of Consulting Division Supply Chain Indonesia

Editor : Sigit

Foto : TruckMagz



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix