Tarif Asuransi Muatan Belum Diatur

05 / 09 / 2017 - in News
Tarif Asuransi

Belum adanya aturan tarif khusus asuransi muatan yang harusnya menjadi kewenangan Otoritas Jasa Keuangan ditengarai menjadi penyebab utama perang tarif. Keadaan tersebut berimbas pada persaingan bisnis menjadi tidak sehat. Padahal pertumbuhan bisnis asuransi muatan tergolong menjanjikan jika dilihat dari pendapatan premi bruto marine cargo dari pihak asuransi pada tahun 2016 sekitar Rp 3,15 triliun.

Menurut catatan PT Insurance Broking Service (IBS) , saat ini asuransi marine cargo memiliki 6.83% dari total pasar asuransi.” Saat ini kami menghadapi situasi price war, maka tentunya persaingan harga yang menjadi tantangan kami. Belum lagi saat ini banyak broker dan perusahaan asuransi yang bermain di dalam bisnis muatan sehingga persaingan pun makin meningkat,” kata Angkasa Sutarno, Director IBS.

Ia mengatakan, tantangan bermula  biasanya dihadapi ketika proses tender, dimana hal ini pangkal dari terjadinya perang tarif. Selain itu, pihak asuransi juga terhambat terkait underwriting information atau informasi yang masih kurang lengkap tentang calon klien.

”Mengapa hal ini penting buat kami karena sebelum kami menempatkan resiko atas calon klien kami, kami membutuhkan informasi lengkap terkait bisnis daripada calon klien kami seperti pengalaman klaim, berapa estimasi pengiriman, barang apa saja yang dikirim, berapa limit liabilty yang diperlukan supaya kami dapat memberikan terms kondisi yang tepat untuk calon klien kami tersebut,” tambahnya.

IBS terjun di bidang asuransi untuk perusahaan logistik sejak tahun 1990  dan telah menangani lebih dari 50 perusahaan logistik. Sebagai langkah pengembangan bisnis, IBS  telah menjalin kerjasama dengan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).

 

Teks: Abdul
Editor: Antonius
Foto: Istimewa



Related Articles

Sponsors

TruckMagz Konstruksi Indonesia

TruckMagz Transport, Logistics & Maritime

GIIAS TruckMagz 2017