Ubah Paradigma Program Keselamatan Jalan di Indonesia

30 / 07 / 2020 - in

Pada dasarnya penyusunan program keselamatan di dunia menggunakan tiga pendekatan, yaitu:

1. Pendekatan Konseptual
Pendekatan ini beranjak dari pemikiran, opini, dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam dunia keselamatan transportasi di suatu negara. Pendekatan ini berpegang pada argumentasi untuk menyelesaikan suatu masalah dengan perhitungan kontribusi faktor manusia dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Argumen-argumen itu tentu saja didasarkan atas beberapa data kejadian kecelakaan yang saling terkait dan memiliki pola yang sama seperti tempat, jenis kendaraan, umur pelaku, dan sebagainya. Seperti misalnya, argumen bahwa setiap kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran yang harus ditindaklanjuti dengan tuntutan pidana atau semakin banyak sepeda motor maka jumlah kecelakaan akan semakin banyak juga, dan sebagainya. Pendekatan ini dilakukan oleh negara-negara tanpa data akurat mengenai hazard dan risk dalam kejadian kecelakaan yang diperoleh melalui proses investigasi maupun penelitian. Indonesia termasuk salah satu negara yang menyusun program keselamatan jalan dengan pendekatan ini.

2. Pendekatan Deduksi
Pendekatan deduksi adalah suatu pendekatan yang menggunakan logika berpikir untuk menarik suatu kesimpulan dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang khusus. Pendekatan ini berpijak pada suatu asumsi bahwa suatu program keselamatan yang telah sukses diterapkan di suatu negara maju dan sudah diyakini sebagai suatu kebenaran, maka akan bisa diterapkan pada permasalahan yang sama. Sebagai contoh, program menyalakan lampu sepeda motor di siang hari, yang terbukti sukses menurunkan angka kecelakaan sepeda motor di beberapa negara Eropa, diyakini bisa diterapkan di Indonesia untuk tujuan yang sama. Padahal, belum pernah ada pembuktian yang relevan tentang aturan tersebut terhadap penurunan kecelakaan di Indonesia. Pendekatan ini juga banyak diterapkan di Indonesia dalam menyusun kebijakan atau program keselamatan.

3. Pendekatan Empiris
Pendekatan empiris adalah suatu pendekatan penyelesaian masalah melalui pengumpulan data dengan metode dan teknik tertentu sehingga permasalahan yang ada dapat menjadi jelas dan nyata. Pendekatan empiris ini digunakan untuk menelusuri akar permasalahan dalam memecahkan masalah. Pendekatan ini diarahkan kepada identifikasi (pengenalan) kondisi yang ada dan secara implisit berlaku (sepenuhnya), bukan secara eksplisit (jelas dan tegas diatur). Dari penelitian yang dilakukan secara empiris ini dapat diketahui apakah standar atau hukum yang ada benar-benar diterapkan dalam proses pelaksanaannya ataukah tidak. Dari penelitian ini juga dapat diketahui apakah standar atau hukum yang ada sudah bisa mengakomodasi kebutuhan atau tidak. Pendekatan ini hampir tidak pernah diterapkan di Indonesia karena undang-undang tentang lalu lintas dan angkutan jalan tidak mengatur hal ini. Mengapa banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kerusakan teknis kendaraan bermotor pada mobil bus dan truk, sementara mekanisme pengujian teknis kendaraan bermotor sudah diatur dalam suatu regulasi dan standar yang telah disepakati? Apakah regulasi atau standarnya yang tidak bisa mengakomodasi perkembangan teknologi ataukah ada permasalahan dalam implementasi regulasi atau standar dimaksud? Mengapa banyak kasus kecelakaan rem blong yang disebabkan oleh kesalahan prosedur mengemudi, padahal regulasi telah mengatur penerbitan SIM untuk pengemudi bus dan truk? Apakah mekanisme penerbitan SIM yang perlu diperbaiki ataukah terdapat permalasalahan dalam implementasinya? Mengapa di tol Cipali hampir setiap hari terdapat kecelakaan tabrak depan belakang? Apakah regulasinya yang kurang ataukah lemahnya pengawasan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa terjawab hanya dengan dengan suatu argumen ataupun mengadopsi kebijakan di negara lain, karena hal tersebut bisa jadi tidak pernah terjadi di negara lain dan hanya terjadi di Indonesia. Di sinilah perlunya pendekatan empiris dalam penyusunan program keselamatan. Di sinilah perlunya suatu kegiatan investigasi dan penelitian terhadap suatu kejadian kecelakaan lalu lintas dan angkutan jalan di Indonesia, sebagaimana lazimnya dilakukan di negara maju.

Beberapa argumen, yang saat ini dikembangkan di Indonesia dan menjadi landasan berpikir untuk menyusun program keselamatan dengan anggaran triliunan rupiah, mengemukakan bahwa faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas jalan adalah faktor manusia, faktor jalan beserta lingkungan, dan faktor kendaraan. Manusia menjadi faktor yang paling dominan dalam kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan pelanggaran lalu lintas. Selain itu, manusia sebagai pengguna jalan sering lalai, bahkan berperilaku tidak baik saat mengendarai kendaraan. Hanya itu argumen yang ada dan disampaikan saat ini. Jika diteliti lebih lanjut, tidak sedikit kecelakaan lalu lintas terjadi akibat pengemudi mengantuk dan lelah atau pengemudi tidak memahami dengan baik prosedur mengemudi dalam menghadapi jalan ekstrem.

Kondisi jalan dan lingkungan dapat dibedakan atas standar geometrik suatu jalan, fungsi jalan, karakteristik penggunaannya, dan kelas jalan. Semua itu memengaruhi standar keselamatan jalan. Pengemudi yang tidak memahami hal ini membawa mobil bus atau truk besar ke jalan kelas III atau jalan arteri primer kelas II, yang dibangun dengan lebar hanya 6 meter dua arah. Sekalipun kondisinya sangat bagus, jalan tersebut menyimpan bahaya yang sangat besar bagi penggunanya. Kemudian, para pejalan kaki, kendaraan tidak bermotor, pedagang kaki lima di trotoar tanpa pagar pengaman di jalan primer bisa menjadi ”santapan lezat” bagi lalu lintas terusan yang sedang melaju kencang.

Itu semua merupakan beberapa faktor yang dominan terjadi di Indonesia dan tidak terekam dengan baik dalam data kepolisian. Selanjutnya, kemajuan teknologi otomotif juga berdampak pada peningkatan kinerja kendaraan, salah satunya peningkatan kecepatan kendaraan. Di samping keuntungan berkaitan dengan kinerja kendaraan, dampak peningkatan kecepatan mengakibatkan semakin besarnya risiko kecelakaan maupun tingkat keparahan korban. Lebih jauh ke faktor utama, lemahnya perhatian pemeritah terhadap desain perlindungan atas tabrakan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam peningkatan fatalitas korban kecelakaan. Selain itu juga kurangnya akses terhadap perawatan, sulitnya evakuasi korban, dan ketidakadaan fasilitas pertolongan merupakan keadaan yang dapat memperparah korban.

Deskripsi di atas menjelaskan beberapa hal yang berkontribusi terhadap suatu kejadian kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, terlalu sederhana apabila faktor penyebab kecelakaan digeneralkan hanya manusia, jalan, serta kendaraan dan lingkungan. Generalisasi faktor penyebab kecelakaan akan sangat menyulitkan proses penyusunan program keselamatan jalan, yang seharunya memerlukan data akurat dan menunjukkan kondisi sebenarnya. Data seperti tiu hanya bisa diperoleh melalui proses analisis kecelakaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di sinilah perlunya Indonesia mengubah paradigma berpikir dengan mengembangkan suatu investigasi dan penelitian pada kejadian kecelakaan. Itu tidak berarti proses pidana ditiadakan, tetapi dapat dijalankan secara beriringan. Saat ini investigasi dan penelitian kejadian kecelakaan lalu lintas jalan selalu dicegah dengan alasan dapat mengganggu kegiatan penyidikan tindak pidana yang sedang dilakukan. Semoga revisi Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Nomor 22 Tahun 2009 dapat mengakomodasi hal ini sehingga penyusunan program keselamatan jalan di Indonesia menjadi lebih terarah dan terukur.

Oleh

Achmad Wildan

Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi

Editor : Sigit



Sponsors

 

 

logo-chinatrucks300 327pix